Menebus Impian: Apa Impian Terbesar Hanung Bramantyo?

Menebus Impian: Apa Impian Terbesar Hanung Bramantyo?

- detikHot
Jumat, 23 Apr 2010 11:00 WIB
Menebus Impian: Apa Impian Terbesar Hanung Bramantyo?
Jakarta - Apa impian terbesarmu? Itulah pertanyaan Dani ketika pertama kali memprospek Nur untuk menjadi downliner-nya. Pertanyaan yang sama kemudian dipakai juga oleh Nur untuk membuka percakapan kepada calon-calon downliner yang direkrutnya.

Setelah 'Laskar Pelangi' dan sekuelnya 'Sang Pemimpi', satu lagi film yang mengingatkan pentingnya impian untuk meraih sukses. Judulnya saja 'Menebus Impian'. Lho, memang mimpinya digadaikan di mana?

Dani (Fedi Nuril) adalah agen sebuah bisnis MLM yang sudah mencapai level tinggi. Sebentar lagi ia punya kemungkinan untuk mendapatkan bonus mobil. Sedangkan Nur (Acha Septriasa) adalah mahasiswi yang sedang kesulitan keuangan untuk membayar kuliah. Ibunya yang buruh cuci kemudian sakit pula dan butuh banyak uang untuk biaya operasi. Dani dan Nur sering ketemu di warung Pak Madrim. Dalam kebingungannya, diprospeklah itu Nur oleh Dani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya Nur terjijik-jijik dan bahkan marah mendengar kata MLM. Tapi, lama-lama karena memang tidak ada pilihan lain ia pun mau jadi downliner dan mulai memprospek teman-temannya juga. Setelah melewati berbagai penolakan dan penghinaan ("Apa? MLM? Lebih baik gue jadi gigolo!"), Nur pun berhasil menikmati buah kerja kerasnya. Suatu hari dia mengecek rekeningnya di ATM dan...jreng jreng jreng...tertera angka Rp 13 juta di sana! Adegan berikutnya: Nur membawa ibunya yang sudah sembuh dari sakitnya pindah ke rumah kontrakan baru, sebuah bangunan tua yang luas dan keren.

Begitulah cara film ini mendongeng untuk menginspirasi penontonnya bahwa mimpi itu penting. Bahwa kita harus bermimpi. Bahwa dengan berani bermimpi, tidak ada yang mustahil untuk diraih di dunia ini. Sampai di sini Anda pasti sudah terbosan-bosan membaca ulasan ini, karena merasa seperti diprospek.

Demikian pula ketika saya menonton film ini, saya merasa seperti dijebak oleh seorang teman lama yang katanya mau mentraktir, eh, ternyata memprospek saya untuk bergabung dengan bisnis MLM yang dia tekuni. Sudah barang tentu, presentasinya diawali dengan penjelasan bahwa MLM itu tidak seburuk yang saya sangka. Padahal saya tidak pernah punya prasangka apapun terhadap MLM. Lebih tepatnya, saya tidak peduli.

Siapa pun sutradara film ini, dia pastilah orang yang berhati emas karena tergerak untuk mengklarifikasi kepada masyarakat, bahwa MLM itu bisnis yang suci-mulia. Sutradara ini membayangkan bahwa di luar sana, penilaian dan penghakiman orang banyak terhadap MLM sudah kelewatan dan akan membahayakan kelangsungan peradaban di atas bumi ini. Sehingga perlu ada satu film, yang menguras air mata, untuk menyadarkan umat bahwa MLM itu jalan menuju sukses.

Di hadapan media, sutradara film ini (oh, ya namanya Hanung Bramantyo) bicara tentang "kisah nyata", teman yang menginspirasinya membuat film ini, seseorang yang dulunya nothing bla bla bla. Sementara, di berbagai forum online yang ada di internet, bukan rahasia lagi bahwa film ini dibiayai oleh sebuah perusahaan MLM (kalau ingin tahu namanya search sendiri aja) yang ingin branding. Perusahaan MLM itu jauh-jauh hari sudah teriak-teriak ke mana-mana tentang film ini, membuka tiket pre-sale sejak Februari 2010 dan mengerahkan seluruh downliner-nya untuk berjualan tiket.

"Ada jutaan masyarakat Indonesia yang ikutan MLM, dan mereka bisa jadi market yang potensial," ujar Ben Soebiakto, produser film ini, yang jauh lebih jujur dibandingkan Hanung. Mestinya Hanung sejak awal bilang saja bahwa film ini memang penyuluhan tentang MLM. Memang, di sana tidak ada placement produk. Tapi, penokohan dan seluruh alur cerita sepanjang film ini adalah placement produk itu sendiri! Bagaimana caranya menonton sebuah film yang berangkat dari fakta bahwa karena ada jutaan anggota MLM yang bisa jadi produk market, maka bikin saja film tentang MLM? Betapa naifnya!

Film ini bukan kisah yang jujur tentang orang-orang yang sukses meniti bisnis MLM dari level bawah dengan segala rintangannya. Ini hanyalah sebuah presentasi akbar, cara memprospek orang secara massal, usaha mencari donwliner besar-besaran, propaganda yang telanjang.

Kita tidak pernah dikasih penjelasan bagaimana mekanisme yang berjalan di lapangan hingga Rp 13 juta itu 'makbedunduk terkumpul di rekening Nur. Film ini adalah dongeng yang mengajari orang tentang mimpi, dan seperti layaknya semua dongeng, semua dikisahkan serba instan, penuh dramatisasi yang menye-menye. Akting Acha, seperti biasa, berisik dan menganggu. Di akhir cerita, Nur berhasil mendapatkan bonus impian itu, sebuah mobil, dan dengan bibir bergetar-getar, mata berlinang airmata, dia berpidato seperti seorang pemenang Hadiah Nobel.

Dan Hanung Bramantyo telah menunaikan misi sucinya.


*Mumu Aloha: pengulas film (iy/iy)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads