Bebek Belur: Lawakan Pria-pria Pensiun

Bebek Belur: Lawakan Pria-pria Pensiun

- detikHot
Jumat, 16 Apr 2010 10:07 WIB
Bebek Belur: Lawakan Pria-pria Pensiun
Jakarta - Film Bebek Belur diangkat dari sebuah kisah dunia Cibebek yang sudah banyak dikenal orang, begitu kata situs resmi 21 Cineplex. Mestinya to the point saja, "dunia Cibebek yang sudah banyak dikenal orang" itu apa? Ternyata, dunia yang selama ini digambarkan dalam rangkaian iklan-iklan Motor Yamaha di televisi.

Melihat jubelan nama-nama pemain dalam film ini, memang tidak sulit menebak hal itu. Produser dengan bahasa yang halus dan elegan pasti akan mengatakan, film ini terinspirasi dari karakter-karakter menarik dalam iklan sepeda motor itu. Baiklah, atur saja. Penonton mah tahu beres. Artinya, sejauh yang terpapar di layar memang oke, maka selesai sudah semua urusan.

Pak Toro (Toro Margens) alias Pak Sugi adalah orang kaya di Cibebek. Di mata istrinya, Rima (Rima Melati) yang penyabar dan setia, Toro adalah suami yang baik. Padahal, dia selalu berbohong. Pamitnya rapat, padahal berburu cewek muda di desa sebelah, Cibulu. Di sana memang ada kembang desa yang cantik bernama Sari (Rini Yulianti). Pak Toro berusaha mendapatkan gadis itu dengan menyogok ibunya yang matre (diperankan Ully Artha). Ayah Sari (Joshua Pandelaki) sebenarnya tidak setuju anaknya didekati sama lelaki yang seusia dengannya. Tapi, dia tipe suami yang lemah dan takut istri, sehingga selalu mengalah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sari sendiri? Tentu saja dia menolak. Apalagi, dia sudah menjalin asmara dengan Dadang (Mario Irwinsyah) yang baru saja lulus kuliah dan mendapat panggilan kerja di sebuah pabrik kimia. Sari hanya bisa menangis, sementara Dadang terlalu penakut untuk mengajak kekasihnya itu kawin lari.

Itulah inti cerita yang dibuat untuk menghidupkan sosok-sosok yang sebelumnya hidup dalam iklan Yamaha itu: Didi Petet+Ida Kusuma, Slamet Rahardjo+Nungky Kusumastuti, ditambah trio pelawak Bajaj dan Tesa Kaunang. Ibaratnya, kisah cintaΒ  Sari-Dadang-Pak Toro itu adalah foto yang dimasukkan ke dalam bingkai yang sudah jadi. Risikonya, bingkai itu bisa kebesaran atau kekecilan. Atau, sebaliknya, yang kebesaran atau kekecilan bisa saja fotonya. Dan, itulah yang terjadi.

Keseluruhan alur film ini terasa tidak utuh, bahkan tidak matang. Begitu banyak tokoh, yang dihubung-hubungkan agar terjadi sebuah jalinan alur, untuk kemudian bersama-sama menyelesaikan "konflik". Dadang yang tidak tahu lagi harus bagaimana, akhirnya mendatangi anak-anak muda Cibulu yang ternyata teman-teman lamanya, untuk minta bantuan. Anak-anak muda itu pun kemudian mendatangi Pak Slamet (Slamet Rahardjo) yang merupakan tokoh masyarakat. Mereka bahu-membahu untuk menggagalkan rencana Pak Toro menikahi Sari.

Jadi, di mana konfliknya? Apa konfliknya? Cibulu dan Cibebek bukanlah Montague dan Capulet dalam "Romeo Juliet" klasik, juga bukan Viking dan The Jak dalam "Romeo Juliet"-nya Andi Bachtiar Yusuf. Dan, Sari lebih merupakan Siti Nurbaya zaman ini, dengan Dadang sebagai Samsul Bahri dan Pak Toro sebagai Datuk Maringgih-nya. Dan, ibu-ibu matre yang diperankan Ully Artha itu seperti tokoh yang didatangkan dari sinetron pukul 8Β  malam, hanya saja kurang jahat.

Tidak ada tokoh jahat dalam film ini, termasuk Si Datuk Maringgih dari Cibebek itu. Dan, kalau memang ada yang disebut konflik, akhirnya diselesaikan dengan serba gampang, sebab tokoh-tokohnya bukanlah manusia "nyata", melainkan "karakter-karakter unik dari iklan terkenal itu". Bagaimana cara kita bersimpati pada mereka? Ketika Ibunda Dadang (Jajang C Noer) berkata, "Maaf ya, Nak, ibu nggak bisa bikin slametan," ketika Dadang jadi sarjana dan diterima kerja, kita memang cukup terharu. Juga, gambar-gambar indah besutan Adrianto Sinaga ("Hantu"), dengan irama-warna yang puitis, beberapa kali memanjakan mata kita.

Tapi, selebihnya adalah karikatur: Didi Petet ke mana-mana membawa pancing dan mengalungkan pelampung bebek-bebekan warna kuning, dan preman berbadan besar bertampang seram penuh tato yang menangis sesenggukan mendengarkan lagu Gigi.

Di akhir film, Didi Petet duduk di warungnya. Lalu Slamet Rahardjo dan Deddy Mizwar muncul, menanyakan kabar bebek-bebek peliharaan Didi. Makin gemuk-gemuk, dan berisik kalau pagi, katanya. "Kalau Bu Ida, gimana kabarnya?"

"Sama saja, makin gemuk, dan berisik kalau pagi." Deddy dan Slamet tertawa lebar. Lawakan pria-pria tua pensiunan yang sedang menikmati masa kemakmuran.

Kita pun tertawa, tapi begitu bangkit dari tempat duduk, sudah lupa dengan apa yang baru saja kita tonton.


* Mumu Aloha: pengulas film.

(iy/iy)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads