Tina misalnya, siswa SMA yang diusir karena dituduh selingkuh dengan pacar ibunya. Ia pun pergi dari rumah, namun nasib sial menyebabkan ia diperkosa dan akhirnya dipaksa melacur.
Di sisi lain Nadya dan Mitha yang bersahabat sejak SMA harus terlibat dengan dunia hitam. Mitha menjadi pecandu, sedangkan Nadya harus terus menolong Mitha untuk keluar dari candu narkoba dengan cara apapun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasib mempertemukan Nadya dengan Tina. Mereka menjadi saling cerita terhadap masa lalunya. Tina pun berusaha menjadi teman baik Nadya dan Mitha yang tinggal di sebuah apartemen. Mau susah atau senang, semua mereka bersama.
Hingga akhirnya Mitha kian parah menjadi pecandu. Sampai Mitha harus berhutang kepada bandar narkoba. Ia pun tak sanggup membayarnya.
Sebagai teman, Nadya dan Tina harus memutar otak untuk menolong Mitha yang mempunyai banyak hutang. Bagaimana mereka bisa membayar hutang Mitha? Apa yang harus mereka korbankan?
Soal hadirnya tagline "Bukan Film Porno" di film tersebut, sang produser Chand Parwez angkat bicara. "Jangan sampai film ini dianggap sebagai sesuatu yang vulgar. Makanya ada tagline Bukan Film Porno, karena tidak ingin dicap sebagai film porno," jelasnya.
Namun setelah menontonnya, tagline "Bukan Film Porno" terasa hadir tanpa makna. Sejak awal film Nayato menyuguhkan keseksian kepada para penontonnya. 'Virgin 2' cukup vulgar dengan memamerkan keindahan lekuk tubuh Christina Santika, Neyna Lisa, Joana Alexandra, dan Smitha Anjani. Seks dan keseksian pun mengalir cukup deras sepanjang film.
Dilihat dari alur cerita dan penataan gambar, 'Virgin 2' patut mendapat acungan jempol. Setting tempat dan fashion sangat mengadopsi film-film Jepang cukup menyajikan sesuatu yang urban. Tema ceritanya pun lain, hingga memberikan suasana ketegangan yang ringan namun cukup membuat hati Anda miris.
Nah, apakah film ini bukan film porno? Atau hanya cara lain untuk menampilkan pornografi di layar lebar? Anda sendiri yang tentukan sendiri jawabannya.
(ebi/hkm)