DetikHot

new-release

'The Predator': Menghibur Tapi Ya Sudah

Jumat, 14 Sep 2018 20:38 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
The Predator: Menghibur Tapi Ya Sudah Predator Foto: IMDB
Jakarta - Apakah kalian pernah mendengar penulis-sutradara bernama Shane Black? Kalau kalian tidak familiar, kalian melewatkan banyak hal. Dia adalah salah satu penulis yang (dulunya) pernah menjadi jagoan studio-studio besar Hollywood. Film-film yang ditulis dan dibuat Black selalu mempunyai kepribadian. Ia tidak menjadi sekedar entertainment. Seperti halnyaQuentinTarantino, Anda bisa melihat benang merah diantara film-film yang dibuat olehnya. Anda akan melihat betapa aneh selera humor dia, betapa jenius dialog-dialog yang ia buat dan betapa aneh karakter-karakter yang ia ciptakan.

Serial Predator adalah sebuah serial sci:fi yang lumayan memiliki fan base yang besar. Ia memang tidak selegendaris serial Alien tapi dia menciptakan figur monster yang sungguh iconic. Sekuel-sekuelnya tidak berhasil mengeksplor potensi yang ada di film pertamanya, yang menampilkan kemachoan prima Schwarzenegger. Meskipun film terakhirnya, Predators yang dirilis tahun 2010, sebenarnya lumayan menyenangkan untuk dikunyah, tapi tetap saja penonton masih berharap bahwa Fox bisa membuat Predator segagah film pertamanya.

Masuklah Shane Black, yang mempunyai hubungan langsung dengan serial ini. Tidak hanya ia berkontribusi terhadap skripnya (dia melakukan uncredited writing di filmnya), dia juga bertugas sebagai aktor dalam film tersebut memerankan Rick Hawkins. Dan seperti film-filmnya yang lain, The Predator adalah film Black luar dalam. Film ini menampilkan kekerasan yang sangat graphic, karakter-karakternya nyeleneh semua dan dialog-dialognya akan membuat Anda terbahak-bahak.

Set-upnya sama sekali tidak ribet. Dan Black tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengajak penonton menyelami kengerian yang ada. Kita dipertemukan dengan hero film ini, seorang sniper canggih bernama Quinn McKenna (Boyd Holbrook, musuhnya Wolverine dalam Logan), yang malam itu harus menyaksikan nasib naas teman-temannya. Mereka semua dibantai dengan sadis oleh alien yang kasat mata. Kemudian dia melihat pesawat milik alien dan mengambil "oleh-oleh" dari pesawat tersebut.

Sementara itu ilmuwan bernama Casey Bracket (Olivia Munn) dipanggil oleh pemerintah untuk menyelediki soal alien ini. Kenapa mereka datang kesini dan apa yang bisa digunakan untuk melawan mereka dan sebagainya. Sementara anak McKenna, Rory (Jacob Tremblay, selalu diandalkan oleh studio Hollywood untuk memerankan peran-peran anak kecil yang "susah"), mendapatkan bingkisan dari bapaknya yang berupa barang-barang alien; McKenna sendiri dimasukkan ke dalam bis yang penuh dengan orang-orang "gila" yang sepertinya akan dieksekusi oleh pemerintah.

Alien di laboratorium kemudian lari setelah Rory "bermain-main" dengan "oleh-oleh" bapaknya. Casey lari ketakutan dan akhirnya bertemu dengan McKenna and co. Mereka semua pun akhirnya bersama-sama pergi mencari souvenir yang dicuri oleh McKenna demi melawan si predator yang siap memangsa siapa saja yang menghalangi mereka.

Sebagai sebuah hiburan, The Predator adalah sebuah film yang cukup menghibur. Shane Black dan Fred Dekker sebagai penulis skrip film ini bersenang-senang dengan dialog-dialog dan karakter-karakternya. Adegan-adegannya yang sangat kasar dan mengerikan sengaja dibuat untuk membuat kita nostalgia. Seakan-akan film ini dibuat di era 80-an atau awal 90-an ketika film semacam ini sering dibuat. Rasanya memang seperti déjà vu.

Aktor-aktornya pun kelihatan bersenang-senang dengan materi yang ada. Sterling K. Brown (dicolong dari serial This Is Us), mengunyah dialognya yang cukup kasar dan karakternya yang over-the-top dengan antusiasme yang amat sangat. Olivia Munn berusaha keras untuk memberikan depth terhadap karakternya yang hanya satu dimensi. Barisan underdog Trevante Rhodes, Keegan-Michael Key, Thomas Jane, Alfie Allen dan Augusto Aguilera mempunyai chemistry yang bagus sebagai orang-orang PTSD yang terpaksa harus bersama-sama melawan si alien. Satu-satunya yang terasa miscast mungkin si karakter utamanya. Boyd Holbrook memang bukan aktor yang jelek. Dengan karakterisasi karakternya yang memang setipis itu, dibutuhkan kharisma yang besar untuk menjadikan sosok McKenna mencuri perhatian. Dan sayangnya Holbrook tidak memilikinya.

Editing The Predator yang asal tempel memang mengurangi kenikmatan film ini. Meskipun energi meledak-ledak yang dibawa Shane Black masih bisa membuat film ini terasa seperti roller coaster, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa film ini terasa seperti kehilangan beberapa fragmen. Rasanya tidak utuh.

The Predator juga akhir-akhir ini menjadi spotlight dengan kontroversinya ketika Olivia Munn melaporkan ke Fox bahwa ada aktor yang memiliki sejarah kriminal yang ada hubungannya dengan sexual abuse bermain di film ini. Sementara aktor-aktor dan pembuat filmnya sepertinya diam seribu bahasa, Olivia Munn merasa bahwa hal tersebut berlawanan dengan nuraninya. Terutama karena dia tidak punya power dalam hal casting dan lain sebagainya.

Kontroversi atau tidak, The Predator memang sebuah film yang agak problematic. Film ini mencoba terlihat woke dengan menampilkan barisan tim yang mempunyai mental illness, baik PTSD atau autisme. Tapi itu semua hanya bumbu. Black dan Dekker menampilkan hal tersebut hanya sebagai plot poin atau sebagai bahan jokes mereka. Dan saya belum membahas tentang karakterisasi sosok Casey yang maunya dibuat badass tapi tetap saja berfungsi sebagai pemanis. Ada salah satu adegan dimana Casey terbangun dari tidur akibat bius dan para lelaki mencoba untuk senormal mungkin terlihat tidak seperti predator seksual. Adegannya memang lucu tapi tujuannya bukan untuk terlihat woke atau peduli dengan isu-isu sosial. Yang Black pedulikan adalah tawa penonton. Dan entah kenapa, setelah kontroversi ini terjadi, jokes itu jadi terasa agak sedikit pahit.

The Predator belum bisa menyaingi kejeniusan film pertamanya. Endingnya agak menggelikan meskipun Black sudah bersiap dengan batu batanya untuk sekuel berikutnya. Dibutuhkan lebih dari sekedar karakter-karakter aneh dan dialog-dialog yang cerdas untuk menjadikan The Predator sebuah tontonan yang asyik. Melihat organ tubuh manusia dan kepala terbang kesana kemari dengan darah muncrat memang menyenangkan tapi itu saja tidak cukup.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.




(dar/dar)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed