'Pussycat' Juliana Hatfield: Bangkit karena Donald Trump

'Pussycat' Juliana Hatfield: Bangkit karena Donald Trump

Yarra Aristi - detikHot
Jumat, 12 Mei 2017 10:52 WIB
Pussycat Juliana Hatfield: Bangkit karena Donald Trump
Foto: Dok. Instagram/julianahatfield
Jakarta - Pada saat melihat list rilisan album baru, mata saya sedikit terbelalak melihat nama Juliana Hatfield di situ. Sebagai orang yang mengenal Hatfield di tahun '90-an dan menemukannya merilis album di tahun 2017, saya menduga karya yang dihasilkan paling tidak sudah lebih toned down, lebih dewasa.

Apalagi menemukan fakta bahwa tahun ini Hatfield berusia nyaris setengah abad. Hebatnya, vokal dan cara bermusik Juliana Hatfield tidak berubah sedikitpun! Tetap terdengar seperti gadis grunge menggemaskan yang menyanyikan single "Spin the Bottle", tetap bersuara manis seperti yang selama ini kita dengar di belakang vokal Evan Dando ketika bersama The Lemonheads.

Sejak tahun 1992, Hatfield tetap aktif bermusik dan rutin merilis album. Terakhir, ia merilis album Wild Animals di tahun 2013. Tahun ini sebetulnya tidak ada intensi untuk merilis album. Namun karena kemenangan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, ia tergerak untuk menulis sejumlah lagu yang berbicara mengenai keadaan politik di sana pada saat ini.

Lagu-lagunya sebagian besar memiliki subjek mengenai sang Presiden dan pembelaan terhadap kaum perempuan. 'Sex Machine' dan 'Rhinoceros' memaparkan sosok seorang laki-laki yang digambarkan sangat menjijikkan dan memalukan. 'Short-Fingered Man' pun memiliki topik yang sama, dengan penulisan lirik yang lebih keji dan berani.

Juliana HatfieldJuliana Hatfield Foto: Dok. Instagram/julianahatfield

Sementara itu 'Kellyanne' sangat mungkin membicarakan mengenai konsultan senior Presiden Amerika Serikat, Kellyan Conway. Liriknya sungguh lugas, namun dinyanyikan dengan manis sekaligus sinis dalam aransemen medium beat.

Semacam 'It's About Time' milik The Lemonheads, "Kellyanne, I don't understand the way you make me feel/ The way you turn me upside down, the way my heart sinks when you come around/ But suddenly I don't know who I am… Kellyanne are you ever sad?/ I want be the first one to make you cry, I wanna make you cry.."

'Wonder Why' merupakan balada yang manis dengan lapisan distorsi gitar di sekeliling. 'When You're a Star' memiliki melodi yang membuat terlena, hampir sama dengan yang kita rasakan ketika mendengarkan 'Susanne' milik Weezer, tetap dengan distorsi yang berani. 'I Wanna Be Your Disease' akan mengingatkan kita akan Hole, Letters To Cleo, Liz Phair, dan sejenisnya.

Terlepas dari topik politik yang terasa panas pada album ini, yang perlu diacungkan jempol adalah konsistensi Hatfield dalam membuat aransemen lagu alternative rock/ grunge yang terasa tak lekang waktu.

Seperti mendengarkan masa kejayaan genre musik ini di tahun '90-an namun pada kenyataannya kita berada di tahun 2017 yang sudah jauh mengalami perubahan, bahkan dalam genre musik itu sendiri.

Distorsi gitar elektrik yang kasar, sound drum yang khas, dan seorang wanita menyanyi kadang manis kadang nyeleneh masih ia hadirkan. Sebuah obat rindu yang pas untuk para pecinta genre musik ini. (ken/ken)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads