'Heartworms' The Shins: Membawa Kembali Perasaan Hangat yang Familiar

'Heartworms' The Shins: Membawa Kembali Perasaan Hangat yang Familiar

Yarra Aristi - detikHot
Kamis, 23 Mar 2017 13:54 WIB
Heartworms The Shins: Membawa Kembali Perasaan Hangat yang Familiar
Foto: columbia records
Jakarta - Sudah 5 tahun sejak dirilisnya 'Ports of Morrow', grup asal Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat ini kembali lagi dengan sound-sound khas mereka. James Mercer sebagai satu-satunya anggota orisinil yang masih bertahan, tetap menjadikan musik The Shins berciri.

The Shins mengajak Anda kembali mengingatkan Anda pada perasaan hangat dan aneh yang muncul ketika mendengarkan tata musik yang begitu atmosferik, terkadang trippy. "Name for You" sebagai lagu pembuka membawa hawa bahagia yang playful. "Cherry Hearts" termasuk salah satu track yang memiliki struktur tidak biasa namun di bagian reffrain berubah menjadi familiar dan catchy. "Fantasy Island" memiliki banyak pengaruh The Beach Boys yang sangat melodius dan senantiasa menghangatkan jiwa.

Mercer memasukkan banyak unsur digital pada track berbau electropop/new wave "Cherry Hearts". Sementara itu "Mildenhall" akan menutupi rasa rindu Anda pada lagu-lagu folky khas mereka, macam "New Slang" atau "Young Pilgrims". Lagu ini bercerita mengenai kilas balik Mercer selama ia berdomisili di Inggris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bebunyian unik yang membuat musik The Shins berbeda dan menyenangkan juga masih menjadi daya tarik, seperti pada "Rubber Ballz" dan "Dead Alive". Track "Half a Million" muncul mewakili era indie rock awal dekade 2000-an yang sudah lama asing di telinga. Aransemen "Heartworms" pun sungguh menyejukkan sukma, sementara Mercer bercerita mengenai kisah romantis yang tak disambut dengan semestinya.

Mendekati akhir album, ada "So Now What" yang penuh dengan sound berlapis, distorsi tebal mengawang, hawa shoegaze menemani Mercer bernyanyi mengenai hubungan percintaan yang mengambang, nyaris berada di garis selesai namun berulang kembali tanpa akhir. Dramatis namun dikemas dengan sungguh indah.

Untuk menutup album ini, "The Fear" hadir dengan lirik yang gamang, beat berulang sebagai latar, serta imbuhan strings yang romantis. Suara harmonika muncul di bagian akhir, sehingga ending lagu ini terbungkus dengan rapi.

Memang ada beberapa yang menganggap materi album ini hanya mengambang di permukaan; tidak memiliki single-single sedahsyat "Kissing the Lipless", "Phantom Limb", atau "Simple Song". Hal ini tidak menjadi masalah, karena 'Heartworms' hadir untuk mengingatkan kembali perasaan familiar yang sudah lama hilang dan menghidupkan kembali nuansa khas The Shins.

Mereka seolah melakukan napak tilas, merekonstruksi dan membenahi kembali apa yang sudah pernah mereka lakukan. 'Heartworms' butuh beberapa kali disimak untuk benar-benar dinikmati. Tapi, bagi Anda penggemar karya-karya The Shins dari awal kemunculan mereka, pada akhirnya waktu tersebut tidak akan terbuang percuma, karena Anda kembali dapat menikmati karya yang berharga.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta. (mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads