Jadi, ketika tahu Bon Iver akan merilis album '22, A Million', tidak mengherankan melihat besarnya antusiasme yang muncul dari para penggemarnya. Banyak reaksi bermunculan setelah album ini rilis. Ada yang menyukainya karena dianggap sebuah langkah progresif yang berani. Tapi, ada juga yang menyumpah serapah karena idolanya telah mati, terjangkit virus bernama 'elektronika'.
Tidak ada yang benar dan salah, musik adalah masalah selera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik cerita-cerita itu, '22, A Million' membungkusnya dengan sangat kompleks. Salah satu kompleksitas tampak pada pola aransemen yang dibentuk dari rentetan suara tak tertebak, bukan lagi lirik puitis atau melodi mengawang-ngawang seperti indie folk kebanyakan yang sulit Anda bedakan.
Album ini mengandung gagasan, filosofi, kode numerik yang sering kali tidak dimengerti oleh orang banyak. Beberapa judul lagu jelas sulit dibaca; '29 #Stafford APTS' yang dibaca dengan "29 hashtag Stafford apartments", atau '666 Κ' dibaca dengan '666 upside down arrow'. Atau, lagu '33 'GOD' yang dibuat sengaja berdurasi 3.33 detik.
Meskipun banyak suara artifisial dalam '22, A Million', Justin Vernon tetap berhasil membuatnya terdengar personal dan simple, khas indie-folk. Salah satu lagu favorit Vernon '____45_____' memuat vocoding yang terdengar layaknya dua orang sedang berbincang-bincang.
Satu-satunya kesamaan album ini dengan dua album sebelumnya adalah Justin Vernon (masih) terdengar sedih. Kesedihan yang membuatnya sanggup menciptakan lagu-lagu indah. Kesedihan itulah yang membuat album ini masuk nominasi 'Best Alternative Music Album' Grammy 2017.
Rendy Tsu (@rendytsu) saat ini bekerja sebagai Social Media & Content Strategist. Selain aktif sebagai penulis lepas, ia juga pernah menjadi Music Publicist di salah satu perusahaan rekaman terbesar di Indonesia.
(mmu/mmu)











































