Transormasi yang dilakukan Selena Gomez dari waktu ke waktu seolah masih dalam misi pencarian jati diri. Bersama Selena Gomez & the Scene, ia mempersembahkan 3 buah album yang di dalamnya ada beberapa hits yang memiliki karakter tipikal penyanyi remaja yang bubly, reffrain supercatchy, dengan memakai ramuan musik yang sedang tren di masanya. Sebut saja βFalling Downβ, βWho Saysβ, βLove You Like a Love Songβ, atau βSlow Downβ sudah dirilisnya, dan semuanya sangat mencirikan bubblegum pop masa kini.
Namun, Gomez memerlukan karakter yang lebih kuat. Pop yang catchy dan ceria sudah diwakili oleh Taylor Swift, sementara pop yang penuh kegilaan sudah dirajai oleh Miley Cyrus, bahkan Carly Rae Jepsen sudah banting setir mengusung pop yang mengacu pada dekade β80-an dan β90-an untuk terdengar berbeda. Lalu ramuan apa lagi yang bisa ia persembahkan?
βI'm reborn in every moment, so who knows what I'll become?β begitu ucapnya ketika membuka album βRevivalβ. Dalam wawancara dengan Jimmy Fallon, Gomez mengaku bahwa ia berusaha keras membuat banyak lagu untuk menemukan karakter suara yang pas, karena pada dasarnya ia memiliki suara yang berat. Dan, setelah menelurkan 4 buah album, baru di album ke-5 ini ia memutuskan untuk mengeksplorasi karakter suara beratnya itu dan ia menemukan kenyamanan di situ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu ada βSame Old Loveβ yang dark, dan menampilkan nyanyian Gomez nan lantang dan berani dengan menggunakan efek vokal sehingga terdengar sedikit raw. Lagu ini diproduseri oleh Stargate dan salah satu penulisnya adalah Charlotte Aitchinson, atau yang sudah kita kenal dengan nama Charli XCX. Surprisingly, lagu dengan aransemen yang tersebut juga menjadi racun yang tak mudah terlupakan.
Sementara βMe & the Rhythmβ adalah track bernuansa disko β80-an yang tak kalah seksi dan membius. Napas kekinian diwakili oleh βKill Em With Kindnessβ dan βSurvivorsβ yang sedikit mengambil influence EDM namun meredamnya dengan anggun. Jika Anda ingin mendengar rayuan Gomez, ia melakukannya dengan centil dalam track βHands To Myselfβ.
Gomez juga mempersembahkan track slow dengan basis piano yang emosinal, yakni βCamouflageβ yang mungkin saja merupakan rekapitulasi hubungannya dengan Justin Bieber yang sudah usai. Tidak menusuk seperti lagu galau macam Adele, pun tidak terlalu diperlukan pada flow album yang sudah enak ini. Namun, sebuah track slow nan galau nampaknya sudah mutlak ada pada sebuah album pop. Lantas ia menutup album ini dengan βRiseβ yang memiliki semangat akan harapan, diimbuhi aransemen yang ringan dan renyah.
Sepanjang transformasi yang dilakukan, βRevivalβ adalah titik ketika Selena Gomez akhirnya menemukan jati dirinya. Atau, setidaknya terdengar begitu. Kalaupun ia akan bertransformasi lagi dalam hal musik di kemudian hari, semoga karakter barunya ini terpoles kian mantap.
Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.
(mmu/mmu)











































