'The Desired Effect' Brandon Flowers: Sebuah Sirkus Pop

'The Desired Effect' Brandon Flowers: Sebuah Sirkus Pop

Yarra Aristi - detikHot
Selasa, 26 Mei 2015 13:30 WIB
The Desired Effect Brandon Flowers: Sebuah Sirkus Pop
Jakarta - Vokalis The Killers ini kembali dengan album keduanya. 'The Desired Effect' terdengar semakin meriah akibat banyaknya referensi yang menyelimuti tiap aransemennya. Jika dilihat dari font yang ada pada artwork-nya, pengaruh ’80-an terlihat kental sekali, juga tercermin pada musiknya.

'Dreams Come True' mungkin bermaksud untuk dijadikan entri yang megah, maka dari itu digunakanlah bunyi terompet big band dan beat yang masyur. Di satu sisi ia berhasil, namun di sisi lain segala elemen musik yang ada pada lagu ini terkesan terlalu ramai dan berlebihan.

'Can't Deny My Love' yang didaulat sebagai single pertama dari album ini hadir dalam aransemen electropop yang masih memiliki pengaruh new wave ’80-an. Lagu ini adalah lagu yang paling mewakili karakteristik suara Flowers yang sekali-dua terdengar pengaruh gospelnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lucu juga mendengarkan Brandon Flowers mencoba sedikit cheesy dan playful lewat lagu 'Still Want You'. Terlihat sekali perlahan demi perlahan, Flowers mencoba menginjak ranah pop yang ceria. Belum terlalu sukses lewat lagu ini, namun usahanya boleh dihargai. Toh lagu ini cukup catchy dan menyenangkan untuk dinyanyikan.

'Lonely Town' mengadaptasi American Rock era pertengahan ’80-an macam Starship, Heart, dan Steve Perry. Yang pasti track ini penuh dengan imbuhan synthesizer di sana-sini, vokal yang diselimuti echo, juga dentuman drum yang menggema. Di sini Flowers berhasil membuat hook-hook yang mudah dinikmati, sambil diiringi choir dan backing vocal samar-samar yang melibatkan autotune. Meriah dan menarik.

Apabila kita bandingkan dengan album solo pertamanya, 'Flamingo' (2010), 'The Desired Effect' jelas memiliki lebih banyak eskplorasi aransemen dan sound. Ibarat mendengarkan sirkus pop dari Brandon Flowers, semua terasa penuh dan meriah.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads