'Smoke + Mirrors' Imagine Dragons: Naga yang Kehilangan Arah untuk Terbang

'Smoke + Mirrors' Imagine Dragons: Naga yang Kehilangan Arah untuk Terbang

Rendy Tsu - detikHot
Senin, 04 Mei 2015 11:35 WIB
Smoke + Mirrors Imagine Dragons: Naga yang Kehilangan Arah untuk Terbang
Jakarta - Radiasi bom 'Radioactive' yang ditebar Imagine Dragons seakan tidak pernah hilang dari ingatan. Pada 2013 band ini tiba-tiba muncul menghantam keras chart dengan anthemik rock, sama kerasnya saat mereka memukul setiap floor tom pada aksi panggung yang enerjik. Tapi, ketika album kedua mereka berjudul 'Smoke + Mirrors' (2015) keluar, gaung yang terdengar tidak sekeras dibandingkan pada saat 'Night Visions' (2012) dirilis.
Β 
Awalnya 'I Bet My Life' memberikan pengertian dengan sentuhan lebih folky dan gospel dibandingkan yang sebenarnya diharapkan. It’s okay, mungkin mereka mencoba menggulingkan singgasana Mumford & Sons yang mulai bermain-main dengan synth.
Β 
Lalu, pada 'Shots', single kedua ini tidak menembak tepat seperti yang diharapkan Dan Reynolds dkk. Lagunya tidak buruk, hanya terdengar tidak seperti Imagine Dragons. Dan, mungkin berharap bahwa dengan mengajak Tim Cantor dalam pembuatan artwork akan membuat dirinya melihat di antara kenyataan dan khalayan. Tapi nyatanya surrealisme tidak cukup menolong mereka.

Single 'Gold' menyimpan harapan yang lebih baik; ritme-ritme tarik menarik ala dub-step diselingi suara-suara penyihir dalam pembacaan ritual. Tapi dari ketiga single tersebut saja sudah membuat saya menyimpulkan bahwa "The Breakthrough Band of 2013" ini mulai kebingungan. Simak saja lagu yang menjadi judul album; 'Smoke + Mirrors' dimulai dengan tenang, tapi hentakan keras perusak drum-set muncul lagi di antara verse dan chorus-nya, diakhiri dengan suara hit-hat keras kontras dan solo gitar yang malu-malu.

Irama straight dan kocokan gitar brit-pop ala The 1975, 'It Comes Back To You' agak keluar jalur dari ritme-ritme dahsyat milik Imagine Dragons sebelumnya. Namun, menambahkan "seruling cina" dan menyanyikannya sengaja setengah terbata pada 'Hopeless Opus' adalah lelucon yang tidak termaafkan.

Melakukan eksplorasi bukan sebuah dosa, namun upaya berlebihan dapat menjadi bumerang. Bahkan chorus ironi seperti pada 'Dream' ("We all are living in a dream, but life ain't what it seems"), tentang kenyataan yang tidak seindah mimpi, atau yang rapat hampir nge-rap pada 'Trouble', setidaknya masih bisa diterima. Well, tampaknya para naga sudah mulai kehilangan arah untuk terbang.

Rendy TsuΒ (@rendytsu) saat ini bekerja sebagai Social Media & Content Strategist. Selain aktif sebagai penulis lepas, ia juga pernah menjadi Music Publicist di salah satu perusahaan rekaman terbesar di Indonesia.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads