'Cupid Deluxe' Blood Orange: Identitas Baru Dev Hynes

'Cupid Deluxe' Blood Orange: Identitas Baru Dev Hynes

- detikHot
Jumat, 06 Des 2013 15:27 WIB
 Cupid Deluxe Blood Orange: Identitas Baru Dev Hynes
Jakarta - Devonté Hynes adalah musisi yang selalu gerah, dan itu ia tumpahkan dalam racikan musik yang selalu up to date. Di mana pun ia hinggap, atau kapan pun ia memiliki identitas baru, dapat dipastikan akan sejalan dengan trend yang ada pada saat itu dan (seringnya) malah menjadi salah satu yang terkeren. Ia pernah membentuk proyek indie-rock seperti Test Icicles dan Lightspeed Champion. Ia juga sering membantu beberapa penyanyi, di antaranya Solange Knowles dan Sky Ferreira.

Sejak berganti identitas menjadi Blood Orange, Hynes pernah membuat album bertajuk 'Coastal Grooves' pada 2011, dengan aransemen per track-nya masih memiliki warna yang berbeda-beda. Lagu-lagunya terdengar idealis dan eksperimental, sebagian besar masih membawa napas indie rock.

Baru-baru ini, ia kembali muncul lewat album 'Cupid Deluxe' yang mendapatkan banyak sekali pujian. 'Cupid Deluxe' merupakan album dengan konsep kuat yang terpoles dengan sangat baik. Di sini Hynes sudah tahu apa yang ingin ia lakukan, dan karyanya ini memang terdengar lebih mantap. Ia memasang mesin waktu untuk kembali ke pertengahan sampai akhir dekade '80-an. Segala macam instrumen yang ada dalam era tersebut tertumpahkan dengan ciamik ke dalam lagu-lagu gubahannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hynes mengkombinasikan antara world music dan alternative dance dalam track 'Chamakay' yang menghadirkan sumbangan suara Caroline Polacheck dari Chairlift. Nuansa yang sama ia hadirkan dalam 'It Is What It Is' dengan beat yang lebih dancy dan kontemporer.

'Chosen' akan membawa Anda ke masa kejayaan sophisti-pop, yang didominasi beat drum nan renyah dengan echo tebal ramai melatari. Betotan bass, aksen keyboard, serta embusan saxophone yang sensual turut melengkapi dan membuat rasa rindu terhadap Johnny Hates Jazz, atau The Blow Monkeys sedikit terobati. Lagu ini pun mengingatkan saya akan lagu 'Eyes Without a Face' milik Billy Idol. 'You're Not Good Enough' merupakan track bernuansa synthfunk yang terdengar personal dari liriknya. Track ini cenderung terdengar flat dan membosankan.

'Always Let You Down' merupakan aransemen ulang dari 'I Can Only Dissapoint You' milik band asal Inggris Mansun (tenar pada 2000), yang ia nyanyikan bersama Samantha Urbani. Untuk saya pribadi, track ini belum mampu menyaingi versi original yang sudah telanjur berbekas di benak.

'Time Will Tell' adalah track penutup yang menarik. Berkonsep R&B kontemporer ala Prince yang memadukan kord piano dan looping beat elektronik, serta nyanyian yang seksi. Lagu ini menawarkan atmosfer sensual sehingga refrain berbunyi: "Come into my bedroom, come into my bedroom..." seolah menjadi panggilan untuk sesi bercinta.

Di balik gubahan lagu yang manis dan sensual, Hynes dengan jail menyelipkan elemen komedi dalam beberapa video klipnya. Coba simak video klip 'Chamakay'. Selain kita akan terhibur dengan cara berpakaian ala awal ’90-an dari Hynes, dalam video klip lagu ini ia tidak menghadirkan Caroline Polacheck, melainkan ibu-ibu berkulit hitam dan berdaster untuk berduet bersamanya. Lalu, untuk lagu seseksi 'Time Will Tell', ia berusaha menghibur Anda dengan berpakaian serba putih, mulai dari topi, sweater, celana, dan sepatu olahraga. Selama 5 menit lebih, Anda akan melihat Hynes menghibur dengan bermain piano (juga berwarna putih) dan melakukan gerakan-gerakan jazz ballet atau tarian kontemporer. Menarik dan menggelitik.

Semoga saja album ini bukanlah sebuah album main-main, semoga Hynes segera memantapkan identitasnya yang baru ini. Secara keseluruhan, groove tiap track pada 'Cupid Deluxe' mayoritas cukup menyenangkan untuk disimak. Usaha Devonté Hynes dalam membangkitkan kembali nostalgia era synthpop, synthfunk, dan sophisti-pop patut diacungkan jempol. Namun sayang sekali, di sebagian besar materi yang terkonsep dengan baik tersebut jarang ada track yang bisa melekat lama di benak, sehingga hanya dinikmati sambil lalu saja.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads