'Silence Yourself' Savage: Seperti Psychological Thriller dengan Soundtrack yang Sempurna

'Silence Yourself' Savage: Seperti Psychological Thriller dengan Soundtrack yang Sempurna

Yarra Aristi - detikHot
Selasa, 10 Sep 2013 16:25 WIB
Silence Yourself Savage: Seperti Psychological Thriller dengan Soundtrack yang Sempurna
Jakarta - Suatu hal yang sangat membanggakan melihat banyak sekali para perempuan dalam industri musik satu per satu menunjukkan taringnya. Dari genre apapun, apabila mereka bisa menunjukkan signifikansi dalam bermusik, maka jempol patut diacungkan kepada orang-orang tersebut.

Dari London, Inggris, hadir sebuah band berbahaya beranggotakan 4 perempuan, yakni Jehnny Beth (vokal), Gemma Thompson (gitar), Ayse Hassan (bass), dan Fay Milton (drum). Savages, begitu mereka menamakan diri, merupakan sekelompok perempuan berbalut baju serba hitam bersosok androgini. Bukan sekedar berpakaian hitam-hitam dan terkesan keren, musik mereka pun terdengar sangar dan tidak main-main.

Savages membuat benak kembali mengingat masa kejayaan postpunk, ketika bisa dibilang energi dari Siouxsie and the Banshees melakukan kawin silang dengan atmosfer yang dahulu disuguhkan oleh Joy Division dan Bauhaus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Album 'Silence Yourself' mengajak jantung Anda berpacu lebih cepat, mulai dari intro pada bass dalam 'Shut Up' dan lagu-lagu berikutnya. Teriakan Jehnny Beth yang lantang, distorsi gitar, tempo yang mayoritas cepat, permainan drum yang galak, serta surrounding yang mengawang kelam bagaikan meneriakkan nafsu, amarah, dan emansipasi.

β€œShe will enter the room/ She will enter the bed/ She will talk like a friend/ She will kiss like a man… You got to get used to it/ Give your heart a little kick/ β€˜Cause she will, she will, she will....” begitu teriak Beth pada 'She Will' yang seolah meminta Anda memandang perempuan dengan cara yang tidak lagi sama.

'I Am Here' merupakan track dengan distorsi nan tajam menyalak, gebukan drum gahar, bersatu padu menghasilkan kesatuan yang membuat merinding. Klimaks terjadi pada track 'Husbands' yang bertensi tinggi. Beth menyanyi dengan lantang dan berkata, β€œI woke up and I saw the face of a guy … His presence makes me feel all elated/ It’son the final hour of myself/ God I wanna get rid of it/ My house, my bed, my husbands/ Husbands, husbands, husbands…” diiring aransemen yang seolah mengajaknya berpacu.

Hanya pada track terakhir 'Marshal Dear' mereka tampil sangat berbeda. Ini adalah sebuah lagu dengan dentingan piano dan tiupan saksofon dengan nuansa yang kalem tapi di saat bersamaan terdengar mencekam berkat lirik nan tajam, β€œI hope you’re breathing your last breath, Of Marshal Dear/ And you will die, you will die soon/ I give you a quarter of an hour, Oh Marshal Dear/ Can’t you see I’m winning....” Bagaikan sedang menyaksikan psychological thriller dengan soundtrack yang sempurna.

Bukan hanya jempol yang perlu diacungkan untuk mereka, perlu ada penghormatan lebih kepada para perempuan yang jarang terlihat tersenyum ini. Pejamkan mata Anda, dengarkan Savages menyalak dengan galak. 'Silence Yourself' merupakan album dengan aransemen yang tertata sempurna, hampir tiada cela. Begitu bersemangat, begitu liar, dan penuh energi. Anda akan merasakan panas, dan diliputi peluh fiktif begitu selesai mendengarkan album ini secara lengkap.

Yarra Aristi pernah bekerja sebagai wartawan musik di dua majalah musik terkenal. Kini penyiar dan music director di sebuah stasiun radio swasta terkenal di Jakarta.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads