'Mosquito': Nyamuk Penyedot Perhatian dari Yeah Yeah Yeahs

'Mosquito': Nyamuk Penyedot Perhatian dari Yeah Yeah Yeahs

- detikHot
Selasa, 11 Jun 2013 11:34 WIB
Mosquito: Nyamuk Penyedot Perhatian dari Yeah Yeah Yeahs
Jakarta - Duabelas tahun lalu, ketika dunia pop mengalami stagnasi dan kebosanan, tiba-tiba muncul grup gila dari bawah tanah yang menyebut diri mereka dengan sebutan aneh, Yeah Yeah Yeahs. Mereka adalah Karen O, wanita nyentrik dengan pakaian norak berumbai dan suara-suara absurd yang keluar dari bibir merahnya; Nick Zinner, si rambut aneh yang tak akan pernah gagal membuat gitarnya meraung-raung; dan, Brian Chase, drummer Jazz yang bermain seakan-akan besok mereka akan bubar. Trio ini benar-benar mengguncang dunia saat itu.

Dan, 12 tahun pun berlalu, setelah era 'Fever To Tell' (2003), 'Show Your Bones' (2006), dan 'It's Blitz!' (2009), kini mereka kembali dengan 'nyamuk' yang siap mengigit! Saya tidak bercanda, tapi itulah judul album keempat mereka, 'Mosquito'.

Sebelum dirilis, 'Mosquito' sudah menuai kontroversi di mana-mana karena sampul album yang dianggap buruk oleh beberapa pihak. Padahal, desain yang dibuat oleh animator kelahiran Korea bernama Beomsik Shimbe Shim itu dinilai Karen O (yang kebetulan juga setengah Korea) sangat baik dalam menyampaikan "pesan" dari 'Mosquito'. Namun, perkiraan Karen O kali ini tidak salah. Setelah resmi dirilis 12 April lalu, 'Mosquito' menyedot begitu banyak perhatian publik yang menanti-nanti sound sesungguhnya dari 'nyamuk' kecil itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lead single 'Sacrilege' langsung menghajar bergantian antara vokal Karen O dan nyanyian dari megafone yang berhasil menimbulkan kesan mendalam pada album ini dari awal. Namun, kejutan sebenarnya muncul pada 2 menit terakhir –24 orang dalam paduan suara gospel membangkitkan klimaks lagu tersebut. Betul kata Karen O, tidak ada yang lebih radikal dibandingkan ini.

Ada juga 'Subway', lagu tentang New York City, kota tempat Yeah Yeah Yeahs berasal. Kemudian, mereka menunjukkan keahlian menulis lagu dalam track 'Mosquito' dengan penggalan lirik terbaik, "They can see you, but you can't see them", dan track berjudul 'These Path' yang berujung menjadi lelucon, "These pants rubbed off against, against".

Nick unjuk gigi dalam lagu berjudul 'Area 52', dan 'Buried Alive' yang menampilkan rap dari Dr. Octagon yang merupakan alter-ego Kool Keith. Sedangkan, Brian menunjukkannya pada pattern perkusi dalam lagu 'Always'. Ditambah, rekomendasi track psikedelik dari saya yang berjudul 'Under The Earth' sudah cukup dijadikan alasan untuk membeli album ini.

'Mosquito' menggunakan pendekatan lo-fi, lebih raw serta banyak terpengaruh roots reggae. Banyak delay dengan sound bass tebal yang mendominasi. Secara keseluruhan, album ini terdengar jauh lebih terencana dibandingkan album pendahulunya. Sayangnya, 'Mosquito' dinilai belum mampu menandingi kesuksesan 2 album perdana mereka, 'Fever To Tell' (2003) dan 'Show Your Bones' (2003). Namun, kali ini saya tidak setuju.

Album ini lebih dari sekedar 'nyamuk' yang meninggalkan gatal-gatal kecil tidak berarti. Tak percaya? Anda harus mencoba digigit oleh 'Mosquito'!

Rendy Tsu (@rendytsu) music director radio, album reviewer dan blogger yang mendedikasikan tulisannya untuk musik.


(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads