'The Next Day' David Bowie: Sang Phoenix yang Terlahir Kembali

'The Next Day' David Bowie: Sang Phoenix yang Terlahir Kembali

- detikHot
Selasa, 21 Mei 2013 12:47 WIB
The Next Day David Bowie: Sang Phoenix yang Terlahir Kembali
Jakarta - Menghilang selama satu dekade dan merilis sebuah album baru di umur 66 tahun adalah hal yang tidak pernah dilakukan oleh rocker mana pun. Tidak ada yang pernah, selain David Bowie. Ia mengejutkan dunia dengan merilis 'The Next Day', sebuah pembuktian bahwa ia telah terlahir kembali.

Well, jangan pernah lupa, kita berhadapan dengan siapa. Selamat datang kembali, Mr. David Bowie! 'The Next Day' adalah album ke-25, setelah rilisan terakhir 'Reality' pada 2003. Album ini berisi 14 lagu baru yang direkam secara rahasia selama 2 tahun, tanpa materi daur-ulang, atau pun bintang tamu; semuanya baru kecuali artwork kemasan albumnya.

Artwork album ini diadaptasi dari sampul album 'Heroes', karya Bowie pada 1977. Tidak ada yang menyangkal bahwa 'Heroes' adalah sebuah album yang nyaris sempurna, yang cocok sekali menggambarkan sosok David Bowie kala itu. Kini, ia sepertinya tak mengejar kesempurnaan itu lagi, dan memilih untuk terlahir kembali dengan dengan kotak putih bertuliskan β€˜The Next Day’.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keterlibatan kembali Tony Visconti yang sebelumnya turut memproduseri 'Heroes' disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang turut andil dalam pemilihan artwork album baru ini. Bukan hanya itu, di album ini kita juga bisa merasakan kehadiran kembali sound gitar liar khas 'Scary Monster' (1980), vokal 'Space Oddity' versi stacato (1969), dan pondasi bass-linedrum-beat album 'Low' (1977) yang lebih sangar.

Gagasan klasik dengan inovasi baru khas David Bowie itu semuanya tertuang dalam 'The Next Day'. Memang, kolaborasi David Bowie dan Tony Visconti selalu memberikan hasil yang tidak pernah lazim. 'The Next Day' mengawali ketidaklaziman itu dengan rockabillity dan kelakar yang tak lucu, "Here I Am/ Not quite dying/ My body left to rot in hollow tree/ Its branches throwing shadows/On the gallows for me/ And the next day/the next/and another day."

Bowie menuliskan problematika dunia dalam konteks yang lebih luas. Contohnya lewat 'I'd Rather Be High' yang menyimpan memori seorang tentara muda di Perang Dunia II, hingga Anda dibuat berpikir ulang tentang kehidupan dalam balada lagu 'Where Are We Now?' Ironi yang jenius! Walaupun, juga ada kisah romantika sepasang kekasih yang menatap langit malam bertaburan bintang di 'The Stars (Are Out Tonight)'. Jenius yang sensitif!

Kabar baiknya, 'The Next Day' dianugerahi rating hampir sempurna oleh sejumlah media dunia. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai "The Greatest Comeback Album in Rock'n'Roll History”. Tapi, bagi saya, 'The Next Day' lebih dari itu. Album ini adalah pencapaian tertinggi yang dimiliki David Bowie dalam perjalanan kariernya selama 4 dekade. David Bowie adalah misteri, tidak ada yang tahu apakah 'The Next Day' akan memiliki kelanjutan atau tidak.

Kalaupun ia mengakhirinya di sini, tidak ada seorang pun yang menyesalinya. Bagai seekor Burung Phoenix, ia telah lahir kembali dan mengakhirinya dengan sempurna.

Rendy Tsu (@rendytsu) music director radio, album reviewer dan blogger yang mendedikasikan tulisannya untuk musik

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads