Ketimbang memilih menjadi model atau aktor film, 4 pria tampan asal Inggris bernama Andy Brown, Ryan Fletcher, Joel Peat dan Adam Pitts malah memutuskan untuk bermain bersama sebagai sebuah band di suatu tempat tenang di barat daya London, Britania Raya. Band tersebut nantinya akan dikenal sebagai Lawson. Dan, album debut mereka berjudul 'Chapman Square', sama seperti nama tempat mereka kumpul.
Dirilis Oktober tahun lalu, 'Chapman Square' menghadirkan 12 track pop-rock yang mudah dinikmati, sekaligus mudah ditebak dan terdengar mirip satu dengan yang lain. Jika bukan karena 3 single penolong yang terselip di antara 12 track tersebut, mungkin album ini hanya akan menjadi angin lalu.
Yang pertama adalah 'When She Was Mine', pertama kali dirilis pada 27 May 2012 dan sempat 'nangkring' di posisi ke-4 tangga lagu UK Singles Chart. Single debut mereka yang di beberapa bagian terdengar sangat The Script, untungnya masih terselamatkan oleh suara Andy Brown yang muda dan khas. When she was mine/ Everything was easy/ Everything was simple/ Never felt so good/When she was mine. Persis seperti liriknya, lagu ini mudah dan simple untuk dinikmati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan single ketiga, 'Standing In The Dark' adalah favorit saya. Gosipnya, Taylor Swift juga menyukai lagu ini. Andy dengan jeniusnya menggunakan falsetto di akhir verse awal, dan baru menaikkan nada vokalnya setelah reff pertama. Walau agak terganggu dengan intro yang terlalu biasa, lagu ini tetap favorit saya.
Tidak lama setelah album ini dirilis, mereka mengumumkan single keempat yang berjudul, βLearn To Love Againβ. Jika di tiga single lain Andy lebih menonjol, dalam lagu itu Anda akan menyukai riff gitar yang digunakan Joel Peat dan beat drum Adam Pitts.
Sebenarnya masih banyak lagu-lagu lain di tracklist 'Chapman Square' seperti 'Gone', 'Everywhere You Go', 'Waterfall', 'Make It Happen' dan lainnya. Namun, semuanya tidak mempunyai materi yang lebih menarik, dari kumpulan pop-rock yang serupa dan begitu-begitu saja ('The Girl I Knew' tidak termasuk). Sungguh disayangkan.
Rendy Tsu (@rendytsu) music director radio, album reviewer dan blogger yang mendedikasikan tulisannya untuk musik.
(/)











































