Day 1, Sisgahana: Penjelajah Alam Dari SMUN 70
Senin, 04 Jul 2005 09:10 WIB
Jakarta - Sisgahana, apaan tuh? Buat yang belum tahu, sisgahana itu nggak lain adalah salah satu ekskul yang ada di SMUN 70. Kegiatannya naik gunung, rafting, caving dan lain-lain. Pecinta alamkah mereka? Bukan, mereka cuma penjelajah alam.Sisgahana merupakan salah satu ekskul yang udah cukup lama ada di SMUN 70. Ekskul yang punya basecamp di dekat gedung utara SMUN 70 itu ada sejak tahun 1984. Sisgahana itu sendiri adalah kepanjangan dari Siswa Gahana. Siswa berarti siswa, sedangkan Gahana berarti alam. Gank Sisgahana SMUN 70 menolak disebut pecinta alam. Kata mereka predikat itu terlalu berat."Predikat pecinta alam itu berat banget. Kalau kita pecinta alam berarti kita harus ngelakuin suatu usaha untuk mencintai alam. Kayak Greepeace gitu. Kalau penjelajah alam kan kita cuma hobi menjelajah alam. Tapi bukan berarti kita nggak mencintai alam juga. Kita tetap kok jaga kebersihan selama naik gunung. Pokoknya berusaha nggak merusak alam lah," jelas Ketua Sisgahana SMUN 70 periode 2004-2005, Anisa.Setiap periodenya Sisgahana punya jumlah anggota yang berbeda-beda. Untuk angkatan Anisa yaitu anak-anak kelas dua (sekarang naik ke kelas tiga) hanya ada empat orang. Jumlah anggota Sisgahana meningkat drastis ketika anak-anak kelas satu (sekarang kelas dua) mendaftar masuk. Jika ditambah dengn anak-anak kelas tiga (baru lulus), anggota Sisgahana berjumlah 20 orang.Jumlah itu kata cewek yang akrab dipanggil Nisa ini tergolong sedikit. Bahkan setiap tahunnya terjadi penurunan anggota. Zaman dulu, sewaktu pecinta alam masih jadi ekskul yang digandrungi, anggota sisgahana bisa sampai 100-an orang. Andi, salah satu alumnus SMUN 70 yang juga anggota Sisgahana yang sempat menikmati masa-masa kejayaan itu, mencoba kasih alasan logis kenapa fenomena penurunan anggota Sisgahana bisa terjadi."Di Indonesia itu lagi ada krisis organisasi pecinta alam. Penurunan nggak cuma terjadi di Sisgahana aja. Sekarang anak muda lebih tertarik sama hal-hal yang berhubungan sama modernitas. Naik gunung nggak dianggap sebagai sesuatu hal yang keren atau membanggakan lagi," jelas Andi.Pemikiran orangtua soal ekskul menjelajah alam ini juga jadi salah satu sebab menurunnya jumlah pengikut organisasi ini. Para orangtua masih berpikir, ekskul ini membahayakan jiwa anak-anak mereka."Pemikiran orang tua itu sama rata. Mikirnya yang jelek-jelek aja. Mereka takut anaknya jatuh ke jurang atau sakit karena naik gunung. Padahal banyak yang tadinya sakit-sakitan jadi jarang sakit lagi gara-gara ikut Sisgahana," tutur Anisa lagi.Tapi baik Andi maupun Nisa mengakui, mulai tahun 2005 ada kecenderungan anak muda mulai melirik ekskul yang ada hubungannya dengan menjelajah alam ini. Rasa tertarik itu rupanya muncul karena berbagai acara menjelajah alam yang tayang di beberapa stasiun televisi.Bukti mulai diliriknya ekskul Sisgahana adalah dengan masuknya 11 orang anak kelas satu ke Sisgahana sesudah demo ekskul dulu. Salah satu dari 11 orang anak itu juga mengakui secara nggak langsung, kalau acara-acara berpetualang di alam yang tayang di televisi itulah yang jadi salah satu alasan mereka masuk Sisgahana.O'ya ternyata untuk jadi anggota tetap Sisgahana itu nggak gampang lho. Selain wajib ikut latihan rutin seminggu dua kali setiap Kamis dan Jumat, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum mereka diangkat jadi anggota resmi.Nah cerita soal proses diangkatnya anggota baru Sisgahana ini nggak akan detikhot bocorin sekarang. Tunggu lanjutan ceritanya besok ya... (eny/)











































