Tohpati membawakan 13 lagu instrumental dari tiga album yang ia telurkan. Dengan berpenampilan serba putih, ia dengan tenang memetik gitar. Aksi panggungnya pun tidak bervariasi, hanya berdiri atau duduk. Namun sesekali ia memetikkan jari dan menghentakkan kaki mengikuti irama.
Lagu pembuka, 'Country' yang membangkitkan mood 800 penonton tua dan muda. Selanjutnya lagu 'Barongsai' dan 'Layang Serampang' pun menggodek kepala penonton dengan irama ngebeat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konser yang berlangsung lebih dari dua jam itu tak membuat penonton bosan. Tohpati menggandeng penyanyi jebolan Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Sutha untuk berduet. Lagu 'Jejak Langkah' dan 'Senandung Rindu' dipilih untuk menghangatkan suasana.
Di setiap lagu, tidak hanya Tohpati yang dominan menguasai nada, ke-28 pengiring pun diberi kesempatan unjuk gigi memainkan alat musik masing-masing. Sebutlah Yesaya Sumantri, drummer muda itu begitu energik dan penuh senyuman membalas setiap tangga nada dari Tohpati.
Musisi jazz, Indro Hardjodikoro pun diberi kesempatan membetot bassnya di saat Tohpati istirahat beberapa menit. Penonton bertepuk tangan takjub melihat permainan solo mereka berdua.
Dalam konsernya Tohpati dikelilingi 6 gitar sekaligus. Setiap 2 lagu ia mengganti gitar menyesuaikan lagu yang dibawakan. Gitaris terbaik sepulau Jawa tahun 1989 itu sesekali mengeluarkan candaannya garing dengan mengenalkan setiap lagu sembari mempromosikan ketiga albumnya.
Konser seharusnya diakhiri dengan lagu 'Mahabaratha' dengan tempo upbeat. Namun penonton berteriak "lagi . . . lagi . . . 10 lagu lagi," membuat Tohpati harus memainkan lagu bonus yang berjudul 'Gembala'. Sebelum lagu 'Gembala' di mainkan, Yesaya dan Indro berduet.
Meski dengan panggung kecil dan tata cahaya minim, Tohpati dengan sempurna menunjukan kebolehannya memetik gitar. Konser ini pun sebagai bukti kalau musik instrumental tidak kalah pamor dengan musik industri. (ebi/dit)











































