Namun diantara 8 gitar itu, Parker Saraswati demikian Budjana menyebutnya, menjadi primadona. Sekitar 13 lagu dibawakan gitaris GIGI itu, namun Saraswati menemani Budjana dalam 6 lagu.
Konser dibuka pukul 20.00 WIB, tiga puluh menit kemudian setelah gong berbunyi 3 kali, lampu meredup suara buah hati Budjana, Devananda membuka pertunjukan dengan bahasa Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budjana membawakan lagu-lagu yang pernah dimuat dalam 4 album solonya. Konser malam itu diselimuti nuansa Bali. Dari musiknya hingga suasananya.
"Akhirnya bisa konser juga setelah 4 album. Dari 1997 udah pengen banget tapi baru terlaksana 10 tahun kemudian. Ya sekarang," ujar Budjana di sela konsernya.
Lagu ke-5 'Ruang Dialisis' mendramatisir suasana. Sayup terdengar suara asli nenek Budjana yang menembangkan sebuah nyanyian, menurut sang gitaris lagu ini terinspirasi dari kisah ayahnya yang sakit di kala itu.
"Mudah-mudahan ayah saya nonton di dunianya," harap Budjana untuk ayah tercintanya yang telah lama berpulang.
Di Lagu ke-8, Budjana mendapuk pianis kenamaan Indra Lesmana untuk berkolaborasi. Mereka memainkan sekitar 3 lagu salah satunya adalah 'Wanita' yang dicipta Indra bersama Budjana beberapa tahun lalu.
Lagi-lagi Budjana memeluk Saraswati menemani malam besarnya. Menjelang akhir konser, Budjana menyerahkan buku semibiografinya bertajuk 'Gitarku: Hidupku, Kekasihku' kepada Ian Antono, Peter F. Gontha, personel GIGI (Armand, Thomas, Hendi) dan manajer GIGI, Dani Pete.
Dua lagu mengalun kemudian dan konser berakhir tepat pukul 22.00 WIB. Namun rasa haus penonton sepertinya belum terpuaskan. Setelah berlalu dari pentas, Budjana kembali dan membawakan lagu 'Temple Island' sebagai penutup. Bravo! (yla/yla)











































