Ada kabar baru dari band rock and roll asal Bandung, The Changcuters. Setelah sukses mewujudkan salah satu mimpi terbesar mereka menggelar tur konser di tiga kota di Inggris, Tria dan kawan-kawan justru harus berhadapan dengan meja hijau di DCDC Pengadilan Musik edisi ke-65.
Grup yang telah mewarnai musik Indonesia lebih dari dua dekade ini diseret ke persidangan bukan karena kasus kriminal. Melainkan untuk 'diadili' atas konsistensi berkarya, keunikan identitas, hingga torehan prestasi internasional mereka.
Suasana persidangan berlangsung meriah dan penuh canda tawa di hadapan ratusan penggemar yang memadati lokasi di salah satu kafe di Bandung. Dipimpin oleh komedian senior Denny Chandra sebagai Hakim Ketua dan Yoga PHB sebagai panitera, The Changcuters dicecar pertanyaan keras, namun menggelitik dari dua Jaksa Penuntut Umum kawakan, Pidi Baiq dan Budi Dalton.
Guna menghadapi tuduhan tersebut, The Changcuters didampingi oleh tim pembela yang diisi oleh Yash Budaya (vokalis Alone At Last) serta komika Kamaludin Arisatu alias Kamal Ocon.
Perwakilan DCDC, Agus Danny Hartono, mengungkapkan konsistensi menjadi alasan utama membawa pelantun Hijrah ke London ini ke meja hijau. Sejak terbentuk pada 2004 hingga melengkapi formasi utamanya pada 2005 (Tria, Qibil, Dipa, Alda, dan Erick), The Changcuters dinilai tak pernah kehilangan taji.
"The Changcuters adalah contoh bahwa sebuah band bisa terus berkembang tanpa harus meninggalkan jati dirinya. Tahun ini mereka menorehkan pencapaian penting dengan membawa karya tampil di tiga kota di Inggris (Newcastle, Edinburgh, dan London), sekaligus merilis album WOW MA. Dua momentum tersebut menunjukkan perjalanan mereka selalu punya cerita baru," tutur Danny dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).
Dalam persidangan, fakta menarik terungkap mengenai momen bersejarah tur Inggris pada April 2026 lalu. Keberhasilan tersebut seolah mewujudkan ramalan dalam lirik lagu hit mereka, Hijrah ke London, yang dirilis 20 tahun lalu pada album Mencoba Sukses (2006).
Tak hanya itu, sang vokalis, Tria, juga mengulik rahasia dapur di balik dapur kreatif dan nama band yang kerap memicu penasaran. Menurutnya, di balik aksi panggung yang tampak ugal-ugalan dan energik ala garage rock revival, ada proses kerja keras yang sangat serius.
"Saya meyakini siapa pun band besar beraliran rock, di belakangnya mereka sangat serius. Rock and roll yang manggung dengan image ugal-ugalan itu ya cuma penampilannya saja. Di belakangnya ada banyak kerja keras dan kreativitas," tuturnya.
Terkait album terbaru bertajuk WOW MA yang dirilis pertengahan Juni 2026, Erick dan Tria menjelaskan nama tersebut diambil dari diksi internal penyemangat mereka yang kini juga diabadikan sebagai nama label independen milik band.
Setelah melalui proses pembuktian dan perdebatan yang dipenuhi gelak tawa, sidang perkara nomor 1.65/DCDC/2026 ini akhirnya membuahkan hasil manis. Panitera dan Hakim menyatakan seluruh karya dan konsistensi The Changcuters justru memperkaya kancah musik Tanah Air.
"Mengadili dan memeriksa perkara nomor 1.65/DCDC/2026 dengan terdakwa The Changcuters dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan!" ujar Hakim Ketua Denny Chandra sambil mengetukkan palunya, yang disambut riuk tepuk tangan penonton.
Simak Video "Video: 'Hijrah' ke London! The Changcuters Bakal Tur di UK"
(mau/pus)