Album Penyelamat Tom Morello

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Kamis, 21 Okt 2021 20:04 WIB
PERTH, AUSTRALIA - FEBRUARY 03:  Tom Morello of Rage Against The Machine performs on stage during the 2008 Big Day Out at the Claremont Showgrounds on February 3, 2008 in Perth, Australia.  (Photo by Paul Kane/Getty Images)
Tom Morello. Foto: Getty Images/Paul Kane
Jakarta -

Tom Morello baru saja merilis album The Atlas Underground. Rencana perilisan album itu memang telah diumumkan oleh musisi yang juga bergabung dengan Rage Against the Machine, Audioslave, dan Prophets of Rage tersebut dengan merilis single terlebih dulu.

Bagi Tom Morello, The Atlas Underground adalah album penyelamat. Menurutnya, album itu membuatnya data melalui masa yang suit.

"Album ini adalah seperti sebuah rakit penyelamat kecil yang menolong saya mengarungi kehidupan selama masa yang sulit," ujar Tom Morello dalam siaran pers yang diterima detikcom.

Selain itu, proses penggarapan The Atlas Underground mendorongnya juga telah membangkitkan keinginannya untuk mengembangkan diri menjadi musisi yang lebih baik dari sebelumnya.

"Hal ini benar-benar membuat saya berpikir untuk terus maju dan membantu saya untuk mendorong diri saya sendiri lebih lagi, baik sebagai seorang seorang musisi maupun sebagai seorang pemain gitar," tuturnya.

"Saya merekam semua bagian gitar saya dalam satu ruangan isolasi yang tertutup, dan saat ini rasanya luar biasa, untuk dapat melepaskan lagu-lagu ini ke dunia dan memberikan babak terbaru dari permainan gitar saya yang aneh pada publik yang seperti tidak mengharapkan apa-apa," sambung dia.

The Atlas Underground digarap Tom Morello di masa pandemi. Hal itu yang menyebabkan penggarapan album tersebut juga memiliki tantangan tersendiri baginya.

Menurutnya dia, bukan mudah untuk menulis materi lagu ketika tengah berada dalam masa-masa yang berat.

Salah satu kesulitan yang ia hadapi ialah bahwa ia terpaksa merekam suara gitar lewat ponselnya karena tidak mempunyai akses untuk mendatangkan sound engineer ke rumahnya. Alhasil semua proses kreatif dan teknis ia jalankan sendiri dari studio rumahnya di Los Angeles, lalu berbagi hasil rekaman dalam bentuk file audio ke beberapa kolaborator di seluruh dunia.

"Seperti sebuah ide gila dan keterlaluan, namun juga bermuara kepada kebebasan dalam berkreasi, karena saya menjadi tidak terlalu berpikir panjang dalam menentukan bagian gitar saya dan hanya harus mempercayai insting saya sebagai musisi," jelasnya.



Simak Video "'Comeback'! Media Pemutar Musik Winamp Siapkan Perubahan Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)