Ngobrolin Skena Seni Indonesia, Tantangan Pandemi-Peluang Digitalisasi

Erika Dyah - detikHot
Sabtu, 25 Sep 2021 19:47 WIB
Padi Reborn
Foto: Istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir 2 tahun di Tanah Air menghantam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tak terkecuali sektor kreatif, seperti skena seni di Indonesia. Kendati menemui berbagai tantangan, dorongan pandemi juga disebut memunculkan berbagai peluang bagi para pelaku seni.

Co-Founder Bartega, Jazz Pratama menyebutkan saat ini masyarakat telah berada di zaman yang lebih mengapresiasi karya seni jika dibanding dengan masa terdahulu.

"Mau itu seniman, pelukis, ilustrator, itu ada banyak opportunity kita untuk lebih eksplor karier di seni. Karena sekarang orang-orang sudah bisa mengapresiasinya, seni jadi sebuah profesi yang bisa dieksplor," kata Jazz dalam Bukamata persembahan Artotel yang disiarkan di detikcom.

Ia pun mengatakan seni merupakan sesuatu yang akan bisa terus berjalan dengan atau tanpa adanya pandemi. Sebab, para pelaku seni memang dituntut untuk selalu adaptive dalam merespons setiap perubahan.

Senada dengan Jazz, Co-Founder Senimart & Architect, Bintang Gemilang menjelaskan bahwa saat ini orang memandang seniman jauh berbeda dengan dulu.

"Mungkin orang dulu melihat seniman sebagai pekerjaan yang mungkin dirasa kurang menjanjikan. Tapi makin ke sini kita bisa lihat sendiri bahwa seni ada di mana-mana, dan seniman bisa dengan bangga mengatakan profesi mereka seniman. I think it's a full time job, seniman dan seni sekarang sudah luas banget integrasinya dengan bidang apapun," jelas Bintang.

Ia pun mengatakan seni harus terus mengikuti perubahan, salah satunya dalam merespons kondisi pandemi, misalnya, seni rupa yang akhirnya harus menyesuaikan diri dengan dunia virtual. Kendati menjadi sebuah tantangan, ia pun menyebutkan bahwa hal ini memunculkan berbagai ruang-ruang virtual yang mulai banyak digarap supaya orang-orang bisa menikmati seni seperti sebelumnya.

"Tipe-tipe seni yang ada juga mungkin jauh lebih bervariasi, dari yang sekadar painting bisa berkolaborasi dengan teknologi, dengan video, Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), gue ngelihat ke depannya dengan dorongan pandemi (seni) ini bukannya menyempit ke salah satu tapi malah meluas," tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Owner & Founder dari Artsphere, Maya Sujatmiko pun menyampaikan bahwa pandemi justru bisa mendorong para pelaku seni untuk lebih kreatif.

"Bencana pandemi ini juga ada sedikit berkah, yaitu mendorong untuk lebih kreatif melakukan usaha-usaha atau acara-acara yang memang sebelumnya belum pernah dilakukan. Mengenal, menggunakan teknologi terutama media sosial, segala perangkat teknologi untuk melakukan segala kegiatan usaha," ujar Maya.

Selain itu, ada juga Seniman, Atreyu Moniga yang mengaku tidak terpengaruh pandemi dalam berkarya karena sudah memiliki schedule tersendiri untuk terus membuat karya. Ia pun berbagi strategi agar seniman bisa terus survive di era kompetisi yang disebutnya gila-gilaan saat ini.

"Balik lagi satu ke integritas kita sebagai orang yang bikin karya. Dua, kita sebagai personal karena baik itu online maupun offline yang paling penting adalah hubungan kita dengan karya, bukan gimana kita loncat lalu berusaha bersaing," ungkapnya.

Tak cuma beradaptasi, memanfaatkan digitalisasi, juga menegaskan integritas sebagai seniman, Galerist/Art Consultant, Windi Salomo pun berbagi kiat bagi para seniman untuk terus survive di masa kini.

Menurutnya, salah satu cara untuk terus berkarier sebagai seniman ialah konsisten dalam karya.

"Jadi jangan putus asa kalau ternyata belum berhasil diundang pameran misalnya. Karena itu juga kan jadi satu ujian. Konsistensi itu kan diuji, kalau terus berkarya lama-lama orang akan mengenal," kata Windi.

Ia pun berpesan untuk para seniman muda yang baru mulai berkarier sebagai seniman untuk terus membangun jaringan, berkomunitas, dan rajin mengunjungi pameran.

"Saya pikir komunitas itu jadi satu hal yang berperan penting untuk bisa akhirnya seniman punya jaringan baru, sehingga bisa dikenal dan bahkan berkenalan. di situlah biasanya banyak interaksi dan selalu hal positif yang baik yang bisa," imbuhnya.

Dalam episode kali ini, Bukamata menghadirkan berbagai perspektif dari para pelaku seni Tanah Air. Tak hanya itu, Bukamata juga menghadirkan penampilan spesial dari band ternama Indonesia, Padi Reborn, yang melantunkan lagu-lagu hitsnya.

Padi Reborn membuka penampilan dengan memukau lewat lantunan lagu 'Mahadewi' yang tak lekang oleh zaman. Vokal Fadli, sang vokalis pun tetap prima saat menutup acara dengan tembang berjudul 'Begitu Indah. Tak ketinggalan, Padi Reborn juga menyanyikan single terbarunya berjudul 'Memberi Makna Indonesia' di acara ini.

Sebagai informasi, Bukamata adalah acara yang dipersembahkan oleh Artotel Play dan disiarkan langsung di detikcom. Bukamata adalah sebuah konten digital yang dibuat untuk berbagi dan mengeksplorasi pola pikir masyarakat saat ini, trendsetter, orang-orang yang bersemangat dan berpikiran maju yang memungkinkan gerakan inspiratif.

(ncm/ega)