Wawancara Eksklusif

Japanese Breakfast Bertransformasi pada Kebahagiaan di Jubilee

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Sabtu, 05 Jun 2021 17:53 WIB
Japanese Breakfast
Foto: Peter Ash Lee/ dok. Japanese Breakfast
Jakarta -

Michelle Zauner atau yang dikenal dengan nama panggung Japanese Breakfast baru saja merilis Jubilee yang berisikan 10 lagu. Album itu dibuka dengan Paprika, dilanjutkan dengan Be Sweet, Kokomo, IN, Slide Tackle, Posing in Bondage, Sit, Savage Good Boy, In Hell, Tactics, dan ditutup dengan Posing for Cars.

Menurutnya, Jubilee adalah karya yang berbeda dari dua album sebelumnya yang pernah ia keluarkan, Psychopomp (2016) dan Soft Sounds from Another Planet (2017). Di albumnya kali ini, Michelle Zauner mengaku telah bertransformasi dan banyak menulis tentang kebahagiaan.

Dalam dua album terdahulunya dan bukunya yang berjudul Crying in H Mart: A Memoir through Alfred A. Knopf, dia memang banyak berbicara tentang kesedihan dan rasa kehilangannya terhadap ibunya yang telah meninggal dunia.

Namun kini, Japanese Breakfast menyajikan sesuatu yang berbeda. Tidak hanya dari tema lagu, dari segi musik pun ia menampilkan apa yang belum pernah dia tawarkan di karya sebelumnya.

"Aku rasa aransemen (lagu-lagu dalam album) kali ini jauh lebih luas dan secara suara dibuat dengan kualitas yang lebih baik dan dengan tim yang luar biasa," ungkap dia dalam sebuah wawancara virtual dengan detikcom.

"Secara tema, album ini berbicara mengenai kebahagiaan dalam lagu-lagunya. Dari dua album terakhirku, aku bicara tentang kehilangan ibuku dan kesedihan dan kali ini tentang kegembiraan. Aku rasa itu juga bagian dari pengalaman manusia yang lain," tuturnya lagi.

Zauner bercerita album ini dibuatnya pada Desember 2019. Baginya, ini adalah salah satu karya paling ambisius yang pernah ia buat.

"Aku memaksa diriku untuk membuat aransemen yang lebih luas. Ini kali pertama aku menulis aransemen untuk strings dan horn," ujarnya.

Dia melanjutkan, "Semuanya terasa lebih besar, skala yang lebih besar dan semuanya terasa lebih baik. Aku rasa ini adalah karya terbaikku sejauh ini."

Sebelum mengeluarkan albumnya, Japanese Breakfast juga merilis sejumlah single dari album tersebut, yaki Be Sweet, Posing in Bondage dan Savage Good Boy.

Pada detikcom, ia bercerita mengenai penggarapan Be Sweet dan Posing in Bondage. Menurutnya, kedua lagu itu ditulisnya pada rentang tahun 2018 hingga 2019.

Ide dari Be Sweet pertama tercetus pada 2018, pada awalnya lagu itu ditulis bersama Jack Tatum dari Wild Nothing. Namun, setelah tersimpan beberapa waktu, Zauner justru mencoba mengembangkan lagu tersebut.

"Kami memutuskan untuk membuat lagu pop yang diperuntukkan bagi seseorang dan aku menyukai lagunya dan berpikir, sepertinya lagu ini dapat aku kembangkan ke arah yang lain, maka aku memutuskan untuk menyimpannya," ceritanya.

"Sedangkan Posing in Bondage adalah lagu yang aku tulis antara 2018 atau 2019. Aku membuatnya dalam demo lo-fi tapi aku sangat suka lirik dan melodinya dan mencoba memproduksinya kembali," kisahnya.

Dia pun menjelaskan makna lagu tersebut untuknya. "Sebuah rasa genting yang indah tentang gelisahnya seseorang yang menunggu sesuatu yang tidak akan kembali," sebutnya.



Simak Video "Wawancara Eksklusif! 'JOURNEY' Henry Lau Bareng detikcom"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/nu2)