Ramengvrl: Kehadiran Saya Adalah Sebuah Pernyataan

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Minggu, 01 Des 2019 14:20 WIB
Ramengvrl Foto: Dyah Paramita Saraswati
Jakarta - Tiga tahun belakangan, skena hip hop kembali marak. Putri Estiani Soeharto atau yang terkenal dengan nama panggung Ramengvrl menjadi salah satu rapper perempuan yang namanya naik daun di antara kembalinya gelombang hip hop di Tanah Air.

'I Am Me' hingga 'CA$HMERE' adalah sejumlah lagu yang melambungkan nama Ramengvrl. Kehadirannya merupakan oase di dunia hip hop yang didominasi laki-laki.

Ramengvrl memang berbeda dengan musisi perempuan lainnya. Kebanyakan musisi perempuan tampil dengan citra yang biner sebagai penyanyi baik-baik yang menggemaskan atau perempuan yang tampil vulgar dan berani.




Ia tampil dengan gaya yang selengean, terkesan bukan anak baik-baik, namun juga tidak memperlihatkan kevulgaran dari busananya.

Menerima penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia untuk Kategori Karya Produksi Rap/Hip Hop Terbaik lewat lagu 'CA$HMERE', Ramengvrl menolak tunduk pada 'aturan' tak tertulis yang mengharuskan artis yang datang mengenakan pakaian yang glamor dan mewah.

Sebaliknya, ia justru tampil kasual dengan kemeja bermotif eksentrik, topi dan kacamata berwarna merah. Ia juga dengan cuek berpose di karpet merah meski sejumlah pewarta tengah mewawancarai musisi lain dari label rekaman raksasa di sebelahnya.

RamengvrlRamengvrl Foto: dok. Juni Records.
Ketidakpedulian Ramengvrl justru menjadi sikapnya yang politis. Sebab lewat pembawaannya yang terlihat cuek dan serampangan, ada hal yang ingin Ramengvrl tunjukkan.

"Ketika orang lihat gue, tentu mereka akan lihat gue berbeda dari yang lain," ucapnya ditemui usai menerima penghargaan di acara AMI Awards 2019 di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Meski demikian, ia tidak berusaha untuk terlihat berbeda. Dirinya yang ada di depan kamera adalah ia yang sebenarnya sebagaimana ia bisa ditemui di keseharian. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki keberagaman. Tidak semua perempuan seragam mengikuti satu pakem atau standar tertentu.

"Gue cuman buktiin kalau gue bisa, gue dari (Jakarta) Timur, dan gue sama sekali nggak kenal sama orang-orang yang keren-keren (saat merintis karier), tapi gue bisa," ujarnya.




Dengan detikHOT, Ramengvrl bicara mengenai makna kemenangan di ajang penghargaan, representasi perempuan di dunia musik dan bagaimana ia merasa kehadiran dirinya adalah pernyataan.

Q: Bagaimana rasanya 'CA$HMERE' menang dalam AMI Awards?
A: Ini gue nggak mau bilang ini piala gue sendiri karena gue kerja sama tim. Pastinya senang, karena prosesnya sendiri nggak segampang itu dalam ngeluarin ini. Prosesnya sendiri lumayan tumpah darah, now we are here jadi gue seneng banget, thank you so much.

Q: Bagaimana kamu memaknai penghargaan yang kamu peroleh?
A: Kalau buat gue, dapet piala itu bukan sesuatu yang - maksud gue kita harus mensyukuri juga obviously - tapi ini bukan sebuah patokan atau goals, ini bukan benchmark karya lo diterima orang atau gimana. Kalau lo nggak dapat piala tapi message lo masuk ke 1000 atau 10.000 orang, menurut gue, lo sudah mencapai sesuatu yang lebih dari piala.

Q: Bila ini bukan tolak ukur untukmu, lalu seperti apa tolak ukur kesuksesan menurut kamu?
A: Kalau benchmark buat gue, in terms of career, yaitu menuhin area panggung gue, mungkin nama gue dikenal di area luar Indonesia juga dan buat gue, gue senang aja kalau gue bikin suatu acara, biarpun di tempat kecil, klab doang satu bar doang tapi penuh. Itu menurut gue sudah benchmark bahwa (karya yang dibuat) ada relevansinya, message gue sampai ke orang-orang dan orang suka sama karya gue.

Q: Bicara soal relevansi, apakah menurut kamu masih ajang penghargaan AMI Awards terbilang relevan?
A: Kalau ngomongin relevansi, orang yang dapat AMI Awards, pasti akan lebih dapet little bit much more recognization than others who do not, tapi kembali lagi itu bukan dijadikan sesuatu yang "kalau lo nggak masuk berarti lo nggak relevan atau lo nggak penting". Banyak sebenernya yang pantas masuk AMI tapi karena satu-dua hal nggak masuk. Jadi menurut gue, ini bukan sesuatu yang irrelevant, tapi bukan satu-satunya di dunia musik.

Q: Menang AMI Awards, jadi resolusi kamu tahun ini nggak?
A: Sejujurnya nggak. Ini sama sekali bukan resolusi karena gue lihat sendiri yang lainnya juga banyak yang keren. Ya gue ada senengnya lah bisa dapat.

Q: Selama ini hip hop dekat dengan kesan sebagai musik bawah tanah, sedangkan ajang penghargaan sangat lekat dengan industri, menurut kamu bagaimana menanggapinya?
A: In terms of making impact buat hip hop ini pemting. Buat karier gue mungkin ini nggak penting, cuman buat hip hop, at least orang lebih tahu, tiap tahun sudah ada nominasi itu. Apalagi buat female. Gue nggak ngikutin banget AMI dari tahun ke tahun tapi gue rasa ini buat orang-orang yang aspire to be a rapper atau buat orang-ora g yang ada di scene, menurut gue ini impactful.

Q: Memangnya sejauh apa pengaruhnya untuk rapper perempuan?
A: Buat di skena rapper female, mereka jadi tahu. Gue yang bukan siapa-siapa tadinya, lahir di Jakarta Timur, kalau gue bisa (mendapatkan penghargaan), kenapa enggak? Ini jadi impact dan representasi.

Q: Apa dengen kemenangan kamu, kamu melihat dikotomi antara musik bawah tanah dan musik industri sudah membaur?
A: Belum nyampe situ sih. Sudah membaur, cuma belum ideal. We're going there.

Q: Lalu bagaimana agar bisa mencapai titik ideal?
A: Banyakin nominasinya, banyakin nominees di nominasi. Gue nggak tahu sistem penjuriannya bagaimana, tetapi harusnya kasih kesempatan untuk yanh bawah tanah. Bukan tugas gue buat mikirin bagaimana caranya tentunya. Tapi mungkin salah satunya dengan emberikan kesempatan juga buat yang underground. Tapi bukan sekadar underground aja, tapi memang untuk mereka yang makin an impact, dan deserve nominasi.




Q: Menurut kamu pribadi, representasi perempuan di industri musik sekarang, apakah sudah cukup banyak?
A: Sebenarnya, banyak banget representasi. Persoalannya, representasinya masih saturated. Selalu good girl yang ditampil, nggak ada bad girl. Padahal di sini nggak semua (perempuan) begitu (menjadi anak baik-baik yang terkesan patuh, cerdas dan ramah pada penggemar). Tapi karena yang direpresentasikan yang begitu doang, itu yang membuat ekspektasi publik terhadap perempuan lumayan distorted.

A: Memangnya keberagaman representasi perempuan, akan menunjukkan apa menurutmu? Dan bagaimana yang kamu harapkan?
Q: Untuk bisa musik nggak harus selalu falsetto, vibrant, lagu tentang cinta. Bisa apa pun. Representasi perempuan memang sudah banyak, hanya masih kurang diverse.

Q: Kamu tampil berbeda dengan musisi lainnya, apakah kamu merasa keberadaan kamu dalam dunia musik adalah sebuah pernyataan (statement)?
Jelas. Gue nggak mau self-consious sebenarnya. Tapi ketika orang melihat gue, tentu mereka akan lihat gue berbeda dari yang lain. Kalau mereka terinspirasi dari yang gue lakuin, itu jadi satu penggunaan kuasa yang tercapai.

Q: Secara umum memang apa tujuan kamu berkarya? Apa kamu sengaja ingin jadi representasi perempuan di dunia musik?
A: Tujuan gue bukan yang menggebrak banget. Gue cuma peduli tentang making music, making money. Tapi kalau ada yang terinspirasi dari situ, ada yang mau nge-rap dan takut mau lakuin dan kemudian jadi berani, ya bagus. Berarti gue jadi representasi yang positif.

Q: Menurutmu, apakah digitalisasi berpengaruh dalam membuat skena bawah tanah dan industri menjadi lebih berbaur?
A: Jelas. Sekarang banyak hitungannya tiap bulan ketemu (musisi) yang baru. Sekarang sudah bukan kayak ketemu rapper keren di club, tapi udah ketemunya tuh di spotify. Masuk playlist, kayak misal new era asians. In term of quality, udah bisa. Tapi memang kita belum sampai sana banget, audiens udah terbuka hanya belum 100% sama culture-nya.

Q: Dari digitalisasi ini, apakah ada diskursus baru yang ditawarkan dalam dunia musik bawah tanah mengenai keberagaman representasi?
A: Ada beberapa orang create the discourse. Cuma nggak sebegitunya. Jangan expect ada yang membahas secara mendalam, belum ada. Baru riak doang. Tapi kita ke arah sana.

Simak Video "Aksi TUANTIGABELAS hingga RAMENGVRL di ''Asian Sound Syndicate''"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/dar)