Musisi Indie Nasibmu Kini

Kontribusi Shaggydog dan Endank Soekamti untuk Musik Indonesia

Nivita Saldyny A. - detikHot
Minggu, 31 Mar 2019 23:32 WIB
Foto: Erix Soekamti (Pingkan/detikHOT)
Jakarta -

Ketika kita mencintai sesuatu, rasanya tak ingin untuk menuntut lebih terhadap apa yang kita cintai. Malah rasa ingin memberi seringkali muncul lebih besar. Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh kedua band indie asal Kota Pelajar, Yogyakarta ini.

Shaggydog dan Endank Soekamti merupakan dua band berbeda aliran yang sama-sama mengawali karier karena kecintaan para personilnya terhadap musik. Tentu, usaha dengan pengorbanan dan kerja keras adalah mutlak bagi keduanya hingga bisa mendapatkan pencapaian seperti saat ini.

"Kami nggak pernah membayangkan bisa sampai sejauh ini karena ya kami menjalani semua ini dengan senang jadi nggak kerasa, tahun ini udah 23 tahun," ungkap Heru sang vokalis kepada detikHOT.

"Bahkan kami nggak pernah membayangkan yang hanya dari panggung tujuh belasan sampai bisa ke Amerika dan sebagainya," imbuhnya.

Siapa yang menyangka, di usianya yang sudah berkepala dua ternyata banyak hal yang coba dilakukan Shaggydog untuk musik Indonesia. Tidak cukup hanya manggung dan menghasilkan karya musik, Shaggydog pun kini membangun kerajaannya sendiri.

Mulai dari label rekaman, hingga merambah ke management artis telah dilakoni oleh mereka. Soal pendapatan, bukan itu tujuan utama dan cita-cita mereka.

"Cita-cita kami sederhana, intinya bagaimana caranya Shaggydog ini bisa berguna bagi musisi lain," tegas Heru.

Ide ini pun tercetus ketika mereka mengingat-ingat kembali bagaimana perjuangan yang mereka lakukan selama berkarier di industri musik Tanah Air. Dengan kemajuan teknologi, tentu kemudahan untuk berkarya di jalur musik independen kini dan dulu jelas berbeda.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki saat itu, tak banyak musisi independen yang mampu bertahan hingga saat ini seperti salah satunya Shaggydog. Manis pahit perjuangan sebagai band indpenden telah dilalui. Seperti pengalaman kerja serabutan yang dilakukan oleh band independen beraliran ska ini.

"Pasti ada pasang-surutnya. Kalau masa-masa paling sulit bagi Shaggydog adalah ketika rating kami sebagai sebuah band mulai menurun," cerita Heru.

Menurut Heru, masa-masa terpuruk Shaggydog dimulai saat di album kedua mereka yang berjudul Bersama dirilis tahun 2001. Tak hanya penjualan album, bahkan tawaran manggung pun mulai sepi. Konon, hype musik ska di tahun itu memang sedang turun. Selara pasar sedang bergerak dengan cepat kala itu, kata Heru.

"Saat masa-masa sulit itu kami bareng-bareng kerja serabutan, bikin kerajinan anyaman pandan untuk dijual," imbuh Heru.

Bagaimana jika kamu adalah salah satu personil Shaggydog kala itu. Apakah kamu akan memilih keluar dan mencari pekerjaan yang lebih baik? Namun pikiran itu sama sekali tidak muncul dibenak Heru, Lilik, Richard, Raymond, Bandizt, dan Yoyo. Tidak ada kata menyerah bagi Shaggydog dalam bermusik untuk mereka.

"Kami sama sekali nggak ngeluh dan kepikiran untuk keluar dari band ini. Hingga akhirnya bisa bangkit lagi di album ketiga Hot Dogz lewat lagu Anjing Kintamani dan Di Sayidan," kata Heru.

"Ya itulah, kalau yang namanya udah cinta pasti ikhlas melakukannya. Beda lagi kalau bermusik adalah suatu keterpaksaan dengan tekananan target tertentu mungkin dari dulu kami udah bubar," sahut Lilik, sang keyboardist.

Melalui berbagai usaha yang sedang dilakoninya, nilai-nilai inilah yang ingin disebarkan oleh Shaggydog kepada para musisi pendatang baru. Layaknya sebuah dukungan, melalui berbagai proyek inilah mereka membantu perkembangan musik di tanah air.

Seakan sepakat dengan seniornya, Dory Soekamti pun mengungkapkan hal yang sama. Meurutnya ketika kita telah mencintai sesuatu, maka tak ada salahnya untuk memberikan sesuatu pula untuk apa yang kita cintai.

Seperti halnya dalam bermusik. Bagi Endank Soekamti menghidupkan musik tidak hanya sekadar menghasilkan karya musik.


"Musik sudah menjadi bagian dari hidup kami. Kami terbentuk karena kecintaan kami terhadap musik dan ingin memberikan sesuatu melalui musik," ungkap Dory kepada detikHOT.


Bermusik dengan bebas dan jujur adalah hal yang tak bisa ditawar bagi Endank Soekamti yang telah menggantungkan hidupnya kepada industri ini.

"Dulu musik kami gunakan untuk menyalurkan hobi, sekarang sudah menjadi pekerjaan bagi kami," katanya.

Bahkan dengan perkembangan musik Indonesia yang cukup pesat, Endank Soekamti melihat ini sebagai peluang, bukan tantangan. Banyak potensi-potensi yang bisa membangkitkan gairah musik Indonesia saat ini. Sayangnya, keberadaan mereka yang tersebar di daerah membuat mereka kurang dilirik.


Oleh karena itu, layaknya anak yang ingin berbalas budi terhadap orang tua, seperti itulah kontribusi Endank Soekamti terhadap musik di Indonesia.

Hingga akhirnya lahirlah jajaran 'anak' Endank Soekamti seperti DOES University, Euforia Rocords, Euforia Music Publisher, Euforia Digital, Belialbumfisik.com, hingga Radio dan TV Soekamti. Bagi Dory, ini adalah jawaban dari keresahan atas kemajuan dan perkembangan teknologi digital baik di ranah musik maupun seni pada umumnya.

"Awalnya dulu berangkat dari minimnya wadah bagi musisi sidestream untuk unjuk gigi dan mengenalkan karyanya ke masyarakat luas," kata Dory.

Mulai dari situ terbentuklah Radio dan TV komunitas milik Endank Soekamti. Kemudian keresahan-keresahan lainnya datang silih berganti dan melahirkan proyek-proyek lainnya. Menurut Dory, usaha yang mereka lakukan bukan karena keuntungan yang didapatkan.

"Sama sekali nggak terpikir hal itu, kami hanya ingin memberikan kesempatan yang lebih luas dan membantu para talent-talent baru sekaligus pemain lama di industri musik," katanya.

Mewakili Endank Soekamti, ia berhadap bahwa bukan hanya bisa menerima dan menikmati musik tapi mereka juga ingin memberi dan memajukan musik di Tanah Air.

"Tujuan utamanya ingin menjaring yang di daerah-daerah. Karena sebenarnya potensi kita banyak sekali, sayang lagi-lagi wadahnya yang kurang," imbuh Dory.

Dari usaha mereka inilah, lahir talent-talent berbakat yang tersebar dari seluruh Indonesia. Saat ini, tak hanya mampu memproduksi karya-karyanya dalam bentuk fisik secara mandiri namun banyak juga musisi pendatang baru yang berada di bawah naungan Euforia Records.

Lalu, 558 lagu dan hak cipta dari 151 pencipta lagu di 39 kota di seluruh Indonesia juga telah bergabung dengan Euforia Music Publisher. Enam generasi yang terdiri dari 240 siswa dari berbagai daerah telah dididik di DOES University. Dan masih banyak lagi lainnya. Mereka pun tak menyangka dari yang awalnya mengisi panggung tahun baru di Yogyakarta hingga seperti sekarang ini.

Tentu banyak yang bisa kita ambil pelajaran dari secuil kisah Shaggydog dan Endank Soekamti kali ini.

Melihat potensi musik Tanah Air saat ini Heru pun berpesan,"Kuncinya fokus, jangan pernah lelah untuk berusaha dan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Nikmati saja prosesnya, maka yang lainnya (pencapaian) akan mengikuti. Percayalah karena kami sudah merasakannya."

Di usia yang cukup matang ini, mereka mampu membuktikan bahwa stereotip tentang musik independen tidak selalu benar. Bahwa tidak ada yang salah menjadi mandiri dalam bermusik. Tak ada yang salah dengan berkarya bebas dan tanpa batas. Musik indie hanya perlu dukungan, wadah dan payung yang mampu membuat mereka berkembang bukan mengekang.



(ken/ken)