Cerita Dara Puspita Bikin Lagu 'Surabaya' Demi Bung Karno

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Kamis, 29 Nov 2018 17:00 WIB
Dara Puspita. Foto: Istimewa
Jakarta - 'Surabaya' menjadi salah satu lagu dari Dara Puspita yang paling terkenal. Akan tetapi awalnya para personel band asal Surabaya tersebut saat itu tidak terlalu menyukai lagu itu.

Saat itu Dara Puspita dalam formasi Titiek Hamzah (bass), Titiek AR (gitar), Lies AR (gitar), dan Sussy Nander (drum) tengah dituding sebagai band yang membawakan aliran musik rock n roll yang saat itu disebut sebagai musik 'ngak ngek ngok' oleh pemerintahan Soekarno.

Ketika keempatnya tengah merekam album, seorang teknisi rekaman menyarankan mereka membawakan lagu dansa beraliran irama lenso.

"Kami (sebenarnya) berat (menyanyikan 'Surabaya'). Tapi katanya, 'Ini kan irama lenso kesenanannya Bung Karno. Bung Karno lagi senang dansa irama lenso'. Ya sudah terpaksa, makanya kami bawanya agak lemas," kenang Titiek Hamzah kepada detikHOT saat ditemui di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Tak disangka, lagu tersebut malah menjadi begitu terkenal. "Lah kok malah itu yang 'meledak'," tambah Titiek Hamzah.

Lain cerita dengan 'Mari-Mari'. Lagu tersebut sebenarnya adalah karangan Titiek Puspa.

Titiek Hamzah saat ditemui di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Titiek Hamzah saat ditemui di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Foto: Dyah Paramita Saraswati


"Kami ketemu sama Titiek Puspa beliau menyanyikan lagu 'Mari-Mari'. Mbak Titik AR kan berani ya, berani malu. Dia minta, 'Kak Titiek, kami boleh nggak minta lagu 'Mari-Mari' buat rekaman," ceritanya.

Aransemen intro lagu 'Mari-Mari' dibuat menyerupai lagu The Rolling Stones. Menurut Titiek Hamzah, hal itu sengaja karena mereka ingin mengolok-olok aparat yang sempat menciduk mereka karena menyanyikan lagu The Beatles.

"Kenapa intronya kami bikin Rolling Stones, karena kami mau ngeledek polisi. Nah, (buktinya) kami nggak dilarang," ujarnya.

Dara Puspita merupakan band perempuan yang begitu berpengaruh pada masanya. Sejumlah lagu di antaranya 'A Go Go', 'Soal Asmara' hingga 'Burung Kakaktua' menjadi katalog penting bagi musik Indonesia. (srs/dar)