DetikHot

music

Menilik Pengaruh Radio pada Perkembangan Musik di Putaran Zaman

Selasa, 16 Okt 2018 12:34 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Menilik Pengaruh Radio pada Perkembangan Musik di Putaran Zaman Ilustrasi. Foto: Thinkstock
Jakarta - Pada masanya, radio sebagai media arus utama memegang pengaruh penting dalam pergerakan tren musik. Lagu yang diputar dan menjadi hits di radio akan serta-merta dikenal orang.

Radio memiliki kuasa akan tren musik yang tengah berkembang saat itu hingga zaman pun berubah. Masuknya era digital rupanya mengubah cara pendengar menikmati musik.

Saat ini, musik bisa saja ditemukan dengan sendirinya oleh pendengar, begitu pula pendengar dapat menemukan sendiri musiknya.

Lantas, masihkah pengaruh radio relevan terhadap perkembangan dan pembentukan tren musik di masa kini? Sebuah sesi diskusi di Archipelago Festival yang berlangsung di Soehanna Hall, The Energy Building, Jakarta Selatan, mencoba membicarakan hal tersebut.



Menurut Music Director Jak FM, Ilham Fahrie, radio masih memegang peranan penting dalam pencaturan musik Indonesia. Hal tersebut terbukti melalui survei yang hasilnya menunjukkan bahwa musik masih menjadi alasan utama orang-orang mendengarkan radio.

"Pasti (radio) masih relevan, karena berdasarkan (survei dari) Nielsen, orang mau mendengarkan radio itu karena masih mau dengerin musiknya," tuturnya.

Hal serupa juga diutarakan oleh Music Director dari Prambors, Arga Narrada. "Kalau radio sudah nggak relevan, buat apa Apple bikin radio Beats 1?" ucapnya.

Sentuhan Manusia

Ilham dan Arga sepakat apa yang membedakan playlist lagu yang diputar di radio dengan yang ada di layanan aplikasi streaming adalah adanya sentuhan manusia dalam penyusunannya.

Keduanya bercerita, untuk menyusun lagu dalam sebuah program radio, seorang music director bekerja berdasarkan riset. Riset tersebut berisikan analisis apakah lagu yang diputarkan tepat dengan pasar pendengar mereka.

"Orang dengerin radio masih karena musiknya dan yang menjadi pembeda radio sama (aplikasi) streaming adalah playlist yang ada di streaming dirancang oleh algoritma, sedangkan di radio ada human touch-nya," ungkap Ilham.

"Itu menjadi nilai plus, kenapa radio masih menjadi menyenangkan karena masih ada penyiarnya juga. Orang (yang mendengarkan radio di perjalanan) merasa ditemani ketika lagi di jalan," sambungnya.

Meski radio memiliki keunggulan -- berupa sentuhan manusia -- yang tidak dimiliki oleh aplikasi streaming, akan tetapi Arga dan Ilham sepakat bahwa pelaku radio tidak bisa merasa berada di atas angin.

Inovasi perlu dilakukan agar pendengar radio tidak 'kabur' dan merasa bosan. Ilham menyebutkan, radio tempatnya bekerja kini memiliki aplikasi di mana para pendengar tetap dapat mendengarkan siaran meski pun berada jauh dari saluran FM.



"Perlu bagaimana caranya radio tetap keep up sama indistri. Ya memang setiap institusi radio harus bertransformasi, kita (pelaku radio) nggak harus selalu FM, bisa didengarkan secara streaming, yang penting radio akan tetap menjalankan campaign-nya," urai Ilham.

Arga juga mengatakan, di radio tempat ia bekerja, ia mencoba memutarkan lagu-lagu alternatif yang tak melulu berasal dari artis-artis arus utama.

"Gue memainkan musik-musik lokal yang out of the box. Tapi kami memang nggak gembar-gemborin kalau malam mainin (lagu-lagu) indie, tapi tetap adalah porsinya," tutur Arga.

Selain platform dan pemilihan lagu, menurut keduanya, program yang dimiliki oleh radio juga memiliki pengaruh yang besar pada pendengar.

"Memang radio lebih banyak di (memutarkan) musik, tapi tidak dikesampingkan kalau konten (program) juga harus lebih kuat lagi," ungkap Arga.

Didominasi Musik Asing, Kenapa?

Saat ini, lagu-lagu yang diputar di radio masih didominasi oleh karya musik yang berasal dari penyanyi asing. Bila di Prambors pembagian porsinya adalah 80% untuk lagu asing dan 20% lagu lokal, sedangkan di Jak FM porsinya adalah 70% lagu asing dan 30% lagu lokal.

"Dengan persenan itu dari 12 lagu misalnya, cuma 2 lagu lokalnya. Perbandingannya 12:2 lah kalau dari porsinya," terang Arga.

Menurut Ilham, hal itu terjadi bukan karena radio tidak bersifat suportif kepada musik lokal. Semua itu hanya perkara jumlah.

Jumlah lagu-lagu lokal yang berpotensi menjadi hits di radio masih kalah banyak dibandingkan jumlah lagu-lagu luar negeri dengan jenis serupa.

"Karena memang musik luar negeri lebih banyak daripada musik Indonesia. Maksudnya musik Indo tidak sebanyak itu. Dengan kata lain, musik Indonesia tidak secepat diterima (oleh pendengar) seperti musik luar negeri," jelasnya.

"Sebenarnya secara nggak langsung, bukannya mau pesimis bahwa itu luar negeri itu lebih komersil, tapi mungkin lagu dari luar lebih banyak untuk bisa dikenal koleksinya," tambahnya.

Terlepas dari besar kecilnya peranan radio di masa saat kurasi musik dapat dilakukan secara pribadi sesuai dengan selera masing-masing individu. Seharusnya radio disebut tetap mengambil perannya sebagai 'pupuk' dari 'pertumbuhan' industri musik.


(srs/mau)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed