Yacko Nggak Cuma Modal Tato
Kamis, 30 Jun 2005 08:35 WIB
Jakarta - Yacko. Pertama melihat, pasti langsung ada yang melekat. Tato. Ya, Yacko yang lahir 10 Oktober 1979 itu punya tato berukuran lumayan besar di bagian pinggulnya. Tato tersebut bertuliskan nama Yacko plus microphone dan beberapa bintang. Tampaknya seperti gambaran cita-cita Yacko. Menjadi seorang bintang di bidang musik. Yacko kelihatannya berusaha menjadikan tato tersebut sebagai trade-mark. Tak hanya di cover album, pemegang gelar master dari salah satu universitas di Sydney, Australia, itu juga tak malu-malu memamerkan tatonya saat beraksi di panggung. Tato memang spesial, tapi ada yang lebih istimewa. Paska hijrahnya Denada ke jalur dangdut, musik Indonesia bisa dibilang kehilangan sosok rapper wanita. Dan pertengahan 2005 ini, lewat album bertitel "Refleksi", Yacko mengisi kekosongan tersebut. "Album ini adalah refleksi hidup saya. Pengalaman hidup dan cerminan. Temanya tentang kehidupan sehari-hari yang pasti juga dialami masyarakat," ujar Yacko saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, Rabu (29/6/2005). "Refleksi" memang album solo perdana Yacko, tapi bukan awal karir bermusiknya. Suara Yacko pernah muncul di lagu "Apa Seeh" milik rapper kondang, Iwa K. Ia juga pernah meramaikan album kompilasi "Pesta Rap" (1996).Dalam album "Refleksi", Yacko menyuguhkan 13 lagu. Terpilih sebagai single andalan pertama adalah "So What?". Lagu tersebut bercerita tentang seorang cewek yang ditaksir cowok yang sudah punya pacar. "So what?" kata Yacko. Nggak masalah kan?!Kehandalan Yacko merentetkan bait demi bait plus teknik pengaturan nafasnya patut diacungi jempol. Meski terus merepet, nafas tersengal-sengal tak sempat mampir di telinga. Penampilan seperti itu tak hanya dalam album, tapi juga saat di atas panggung. Tak heran Yacko pernah meraih penghargan best vocal di sebuah kompetisi musik yang digelar di Sydney, Australia. (ine/)











































