detikHot

music

Ketika Koes Bersaudara Melawan Rezim Anti Musik 'Ngak Ngik Ngok'

Jumat, 05 Jan 2018 17:56 WIB Aryo Bhawono - detikHot
Yon Koeswoyo Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Keributan masa tiba-tiba saja muncul di depan Rumah Kolonel Koesno di Jati Petamburan, Jakarta. Saat itu, empat Koeswoyo bersaudara baru saja naik ke atas panggung. Lantunan lagu milik The Beatles, 'I Saw Her Standing There', terpaksa berhenti.

Waktu itu sekitar bulan Juni 1965, Koes Plus diajak manggung di rumah pejabat Angkatan Laut. Acara itu dihadiri oleh staf Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Mereka tak menyangka sekumpulan masa yang diduga dari Pemuda Rakyat, organisasi sayap PKI, melakukan penyambutan dengan unjuk rasa.

Keributan itu menjadi dalih polisi untuk menahan empat bersaudara itu, Tonny, Yon, Yok, dan Nomo Koeswoyo ke penjara Glodok, Jakarta. Keempatnya harus merasakan dinginnya lantai sel selama 3 bulan.


Ketegangan antara anak band paling top di masa orde lama dengan pemerintah sudah mencapai puncaknya. Denny Syakrie dalam buku 'Musisiku', mencatat sejak berdiri pada 1960, mereka sudah menjadi perhatian pemerintah.

Koes Plus, saat itu masih bernama Koes Brother dengan lima anggota ditambah John Koeswoyo, membawakan lagu-lagu beraliran rock and roll semacam beatles, Kallin Twin, dan The Everly Brothers. Presiden Sukarno sendiri tak suka mendengar music-musik itu karena dianggap kontra revolusioner.

Tekanan pemerintah tidak menghentikan mereka merekam lagu. Lima anggota Koes Bersaudara meluncurkan single terdiri dari tiga lagu, 'Senja', 'Bis Sekolah', dan 'Telaga Sunyi'.


Pasca John hengkang karena ingin berkonsentrasi pada pekerjaannya, kontraktor, band ini doihidupi empat Koes Bersaudara yang tersisa. Mereka bahkan berhasil merilis album dalam piringan hitam dan mengisi puncak tangga lagu yang didominasi oleh Rahmat Kartolo dan Alfian.

"Sialnya, penguasa waktu itu, lagu-lagu Koes Plus dituding kebarat-baratan, rock 'n roll, music ngak-ngik-ngok yang dekaden, tidak patriotik, anti revolusi, dan apolitis," seperti dikutip dari buku karya Denny Syakrie berjudul, 'Musisiku'.

Tekanan pemerintah-pun kian menjadi. Piringan hitam Koes Plus turut dibakar dalam berbagai aksi unjuk rasa yang didalangi oleh PKI. Partai ini tengah menjadi anak emas Sukarno. Organisasi Sayap PKI, Lekra, benar-benar memusuhi Koes Bersaudara hingga mereka akhirnya dipenjara.

Namun masa di penjara ini tak lama. Gelombang demonstrasi anti Sukarno, Koes Plus dibebaskan sehari sebelum meletusnya tragedi 30 September 1965. Mereka-pun melanjutkan karier musik dan merekam album bertema perlawanan 'To The So Called The Guilties'.


Musik mereka-pun langsung digemari anak muda kala itu. Koes Plus menjadi salah satu simbol anak muda untuk melawan rezim orde lama yang sudah tua dan korup.

Memasuki masa orde baru, pasang surut kehidupan-pun dialami keempat bersaudara. Band ini mengalami bongkar pasang berkali-kali namun konsistensi rock n roll tetap mereka jaga. Koes Plus telah menjadi legenda.
(ayo/Erwindar)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com