Dilansir NewsHub, Rabu (27/12/2017), Itzhak Gerberg bermaksud meminta kejelasan dari Lorde atas keputusannya itu. Ia mengungkapkan seharusnya Lorde tidak perlu mendengarkan kritikan dari aktivis Boycott, Diverstmen, Sanctions (DBS) yang kontra dengan Israel.
"Dengan mengalah pada agenda kebencian dari sedikit orang yang mendukung DBS, Anda mendorong permusuhan di wilayah ini," ujar Itzhak Gerberg lewat akun Twitter-nya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menganggap Lorde bisa membuat situasi semakin rumit. "Musik seharusnya menyatukan bukan memecah belah," lanjutnya.
Sementara itu di sisi lain, juru Bicara Jaringan Solidaritas Palestina di Selandia Baru, Janfrie Wakim, mengungkapkan pihaknya senang dengan langkah yang diambil Lorde. Menurutnya ini adalah keputusan baik yang harus diikuti musisi lainnya.
"Kami merasa lega dia (Lorde) telah memikirkan secara mendalam konsekuensi dari penampilannya (di Tel Aviv). Ini adalah kemenangan bagi keadilan dan isu-isu di seluruh dunia bahwa boikot bisa menjadi masalah dan seniman bisa membuat perbedaan," katanya.
Lorde seharusnya menggelar konser di Tel Aviv pada Juni 2018 mendatang. Namun, ia memutuskan untuk membatalkan rencananya tersebut.
Pembatalan konser dilakukan Lorde setelah mendapatkan tekanan dari sejumlah aktivis gerakan boikot Israel. Penyanyi asal Selandia baru itu mengumumkan melalui sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh pihak promotor, Naranjah.
"Aku menerima banyak pesan dan surat, dan telah mendiskusikan hal ini dengan sejumlah pihak. Kurasa keputusan yang benar saat ini adalah dengan membatalkan pertunjukanku. Aku minta maaf karena tak bisa menepati komitmenku untuk datang dan bermain di depan Anda. Kuharap suatu hari kita semua bisa menari bersama," ujar Lorde seperti dikutip dari AFP, Selasa (26/12). (dar/kmb)











































