DetikHot

music

Perempuan Nonton Konser Sendirian? Siapa Takut!

Kamis, 19 Okt 2017 15:51 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Perempuan Nonton Konser Sendirian? Siapa Takut! Seorang penonton tampak menikmati pertunjukan musik di Synchronize Fest 2017. Foto: Hanif Hawari
Jakarta - Skena musik yang ramah bagi perempuan harus bisa menawarkan rasa aman bagi mereka agar bisa mengekspresikan rasa cintanya terhadap musik. Bukan hanya bagi pelaku musik, tapi juga bagi para penikmat.

Salah satu yang menjadi indikatornya adalah seberapa aman perempuan bisa menonton pertunjukan musik seorang diri tanpa harus merasa takut akan menjadi korban bully atau perundungan.

"Kita perlu mendefinisikan scene itu apa, scene independen kah, atau major label kah, atau dangdut, tentunya semua tantangannya beda-beda," ungkap Kartika Jahja saat menjadi pembicara dalam panel diskusi 'Women; Gender Equility Within the Local Scene' pada acara Archipelago 2017 yang berlangsung di Soehanna Hall, SCBD, Jakarta Selatan akhir pekan lalu.



Itu artinya dalam setiap ranah musik, tantangan yang dihadapi pun berbeda-beda. Jika Hera Mary mengangkat kancah punk hardcore lokal lewat film 'Ini Scene Kami Juga!', tentunya persoalan yang dihadapi kancah musik lain mungkin saja sama dan bisa jadi berbeda.

Dua orang penikmat konser musik yang detikHOT temui, Larasati Dewi (24) dan Nadira Lubis (24) mengaku tidak pernah mengalami kejadian kurang mengenakkan ketika menonton konser musik.

Keduanya pun mengaku tidak masalah apabila harus menonton konser musik seorang diri. Sebagai informasi tambahan, konser dan gigs musik yang kerap kali mereka datangi berada dalam kancah dan ranah musik independen.

"Kalau berdasarkan pengalaman pribadi, nggak pernah sih gue mengalami hal yang nggak ngenakkin gitu. Paling kalau gue, nyaman atau nggak nyamannya ditentuin sama tempat," kata Nadira.

"So far gue sendiri masih ngerasa aman kalau nonton konser sendirian," tambah Larasati.

Meski merasa aman, mereka tidak menutup bahwa ketidaknyamanan bisa saja masih menjadi ancaman bagi perempuan di konser musik pada kancah yang lain.

"Skenanya itu sendiri sih menentukan attitude sih," sambung Larasati lagi. "Benar kata Ayas (panggilan Larasati), skena itu sendiri menentukan attitude," ujar Nadira mendukung.

Lantas pertanyaan yang timbul adalah bagaimana jika perundungan tersebut terlanjur terjadi? Apa yang harus dilakukan perempuan untuk menjaga dirinya?

Dalam diskusi di Archipelago 2017, Kartika Jahja mengungkapkan jika penjagaan diri tetap dibebankan kepada para perempuan yang berpotensi menjadi korban, maka itu akan semakin memberatkan.

"Selama ini, siasat-siasat biar aman pun selalu dibebankan kepada perempuan," ungkap Tika.



Kondisi tersebut pun tentunya terjadi akibat adanya bias gender yang terjadi karena konstruksi sosial. Jika semua penonton sudah terdidik untuk tidak merundung, pastinya perempuan tidak perlu lagi merasa takut.

Ketika detikHOT kembali bertanya kepada Nadira dan Larasati, menurut mereka pertunjukan musik seperti apa yang ramah bagi perempuan, bagi mereka yang paling penting adalah fasilitas.

Perempuan tentunya mengalami siklus bulanan menstruasi. Fasilitas yang memadai akan bisa membantu perempuan menikmati pertunjukan musik dalam situasi apapun.

"Ramah WC wanita-nya saja udah bahagia sih," tutur Larasati.

detikHOT masih akan membahas isu perempuan lainnya hari ini. Nantikan artikelnya hanya di detikHOT!
(srs/tia)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed