ADVERTISEMENT

Didgeridoos, Warisan Musik Aborigin yang Mendunia

Fakhmi Kurniawan - detikHot
Senin, 18 Mei 2015 14:36 WIB
Jakarta -

Australia dikenal sebagai salah satu negara yang punya banyak adat tradisional. Kentalnya adat tradisional tersebut masih terasa sampai saat ini.

Hal itu mengacu dari masih banyaknya budaya suku asli Australia, Aborigin yang melekat di masyarakat modern Australia. Termasuk beberapa 'peninggalan' yang masih aktif di kembangkan oleh masyarakat modern Australia.

Salah satu 'peninggalan' yang masih terus dibanggakan adalah alat musik tradisional suku Aborigin, Didgeridoos. Sebuah alat musik tiup yang punya bentuk dan cara yang unik.

Dilihat seperti sebongkah kayu besar yang bisa mengeluarkan suara unik layaknya sebuah suling. Alat musik tersebut diberi julukan sebagai 'symbol of Aboriginal dreamtime'. Instrumen tersebut selalu dipakai setiap seremoni dari suku Aborigin.

Memasuki era modern, anak buyut suku Aborigin pun membawa alat tradisional tersebut ke nuansa yang modern. Sederet musisi seperti Darryl Digarrnga, Jeremy Donovan, Mark Atkins, Adrian Burragubba, Alan Dargin hingga William Barton mendalami dan mengembangkan Didgeridoos.

Nama terakhir disebut sebagai salah satu musisi Didgeridoos yang paling potensial. William Barton menggabungkan nuansa tradisional yang otentik dengan musik Orkestra.

Sosok William Barton sendiri lahir di Mount Isa, Queensland pada 4 Juni 1981 silam. Barton sendiri terlahir sebagai salah satu cucu dari suku Aborigin.

William Barton sukses merilis sembilan album solo lewat Didgeridoos. Di mana debut pertamanya sebagai pemain Didgeridoos terjadi pada 2003 lalu lewat album 'Songs of Mother Country'.

"Alat musik ini seperti membawa saya ke zaman kakek buyut saya. Sebuah musik yang membuat kita sadar betapa besarnya peninggalan kita," tuturnya kepada ABC.net.au beberapa waktu lalu.

Sadar dengan peninggalan berharga dari suku-nya itu, Barton tak hanya ingin sekadar bermain Didgeridoos. Barton punya misi untuk membawa Didgeridoos lebih dikenal dunia dengan masuk sebagai salah satu instrumen orkestra.

"Saya ingin membawa budaya tradisional ke dunia. Saya ingin menggabungkan musik Eropa dengan warisan dari kakek buyut saya," ucap Barton beberapa waktu lalu.

Tak hanya asal bicara, Barton terbukti melanglang buana ke berbagai belahan penjuru dunia lewat Didgeridoos dan orkestra. Salah satu penampilan terbaiknya adalah saat tampil di Grand Final YouTube Symphony Orchestra pada 2011.

(fk/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT