Berkarier selama 18 tahun di industri musik, membuat grup pop kawakan Sheila On 7 sudah mencicipi banyak era. Dari analog sampai akhirnya era digital.
Album pertamanya di tahun 1999, direkam secara analog. Memasuki album ke-2 sampai seterusnya, band asal Yogyakarta itu sudah melakukannya secara digital.
Efek-efek tambahan dengan mudah dilakukan untuk memperkaya suara. Namun lambat laun, Sheila On 7 bosan, mereka ingin kembali lagi ke saat dimana pita hitam menjadi media utama rekamannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, apa-apa yang tidak bisa dimainkan saat live, ya nggak usah direkam," tambah Eross.
Bagi Sheila On 7, konsep tersebut sebetulnya sudah lama ingin dikerjakan. Band pelantun 'Lapang Dada' itu ingin memberikan suara yang benar-benar terdiri dari empat instrumen saja atau dikenal dengan nama '4 piece'.
"Alat musik itu suaranya terdengar lebih jernih dengan konsep '4 piece'. Sebetulnya kita jadi mikir, kenapa nggak dari dulu saja. Dulu kami sibuk memikirkan bagaimana biar suaranya padat, padahal kadang yang kosong itu belum tentu jelek," lanjut Eross.
Dengan konsep 'basic track', album 'Musim yang Baik' dikerjakan lebih cepat dari album studio pada umumnya. Proses rekaman berhasil rampung dalam tiga minggu, termasuk mixing dan mastering.
(nu2/nu2)











































