Piano yang diproduksi oleh W Naessens & Co di Jerman itu milik warga Belanda yang semula menempati Loji Gandrung, sebelum bangunan tersebut dijadikan markas militer di masa revolusi hingga kemudian dijadikan rumah dinas wali kota.
Piano yang berukuran kecil tersebut tergolong istimewa. Semua tuts-nya terbuat dari gading gajah. Di Loji Gandrung, piano ini ditempatkan di 'kamar Bung Karno'. Disebut demikian karena kamar tersebut dulu sering dijadikan kamar tidur Bung Karno jika sedang melakukan kunjungan ke Solo dan sekitarnya. Bung Karno dulu sering memainkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ary Sutedja tidak sepenuhnya menggunakan piano tersebut selama konser. Dia lebih banyak tampil dengan grand piano untuk memainkan sejumlah lagu. Bahkan untuk tiga lagu, pendiri JakArt tersebut memadukan piano dengan gesekan cello bersama cellis kenamaan, Asep Hidayat.
Hampir semua lagu yang dipilih merupakan gubahan klasik dengan alasan untuk menyamakan dengan napas koleksi museum. Sedangkan untuk 'piano Bung Karno', Ary Sutedja hanya memainkan dua lagu untuk piano kuno tersebut, yaitu 'Epitaph I' karya Jaya Suprana dan 'Juwita Malam' karya Ismail Marzuki.
"Ini piano berkualitas tinggi, menunjukkan pemiliknya memiliki cita rasa berkelas. Suara dawai piano itu menghasilkan overtones tinggi. Tapi mungkin karena sudah berusia lebih seabad sudah banyak yang harus di-stem ulang dan beberapa onderdilnya diganti. Sebaiknya jangan disakralkan, justru harus sering dipakai agar kualitas suaranya terjaga," ujar Ary usai pementasan.
Penampilan Ary Sutedja di Museum Radya Pustaka Solo adalah dalam rangka memeriahkan 'Bulan Suro Bulan Kebudayaan' yang dicanangkan museum tertua di tanah air tersebut. Sebulan penuh, selama bulan Suro, digelar berbagai acara pementasan, pameran, serta workshop seni dan dan sastra.
(mbr/ron)











































