Pukul 15.00 WIB ratusan orang bertolak dari Jakarta menuju Sukabumi. Apa lagi kalau bukan untuk menghadiri festival musik dan seni bertajuk RRREC Fest in the Valley 2014.
Sebuah festival musik dan seni tahunan yang digarap oleh sanggar dan galeri Ruang Rupa. Tahun ke-4 ini, RRREC Fest in the Valley 2014 akan digelar di kaki gunung Gede Pangrango, tepatnya di Camping Ground Tanakita, Desa Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat-Minggu (31 Oktober-2 November 2014).
Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya rombongan penonton dan pengisi acara tiba. Suhu 18 derajat celcius langsung menusuk tulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, bukan waktunya untuk istirahat. Karena program pertama dari RRREC Fest in the Valley 2014, Jumat (31/10) segera dimulai. Sebuah sajian layar tancap yang menyuguhkan empat film spesial tentang musik.
Berbalut jaket tebal, ditemani gorengan dan kopi, semua orang berbaur menonton karya-karya dari Vincent Moon. Sutradara asal Perancis yang berkeliling dunia untuk mendokumentasikan musik lokal. Di Indonesia, dua band, The Trees and The Wild serta White Shoes and The Couples Company masuk dalam daftarnya.
Selain itu ada pula film dokumenter pendek yang menceritakan tentang musik tradisional. Yaitu, berjudul 'Tarawangsa' dan 'Karinding Attack'.
Selesai dari Vincent Moon, penonton disuguhi film panjang yang berisi kompilasi video klip dari 'segambreng' musisi nasional sejak tahun 2001-2011. Ada Club Eighties dengan 'Selecta Pop' yang mewakili tahun 2001. Koil dengan 'Mendekati Surga' tahun 2002, Lain membawa 'Train Song' dari 2003 dan The Brandals dan The Upstair dengan 'Lingkar Labirin' dan 'Modern Bob' dari 2004.
Tentu saja sajian itu memberikan efek nostalgia. Apalagi saat ini, video klip sudah tidak mendapatkan tempat lagi di media massa. Tambahan Sore - 'Lihat' dari 2005 dan Mocca dengan 'Life Keeps On Turning' setahun setelahnya menambah seru suasana. Berturut-turut kemudian Santa Monica - 'Wanderlust' (2007), ERK - 'Banyak Asap Di Sana' (2009), Bangku Taman - 'Ode Buat Kota' (2010) dan Sir Dandy - 'Jakarta Motor City' (2011).
Belum usai, masih ada film dokumenter berjudul 'Generasi Indomie' karya Platon (Australia). Film tahun 1996 itu menceritakan tentang kemunculan band-band indie di Tanah Air seperti Pure Saturday, Rumahsakit, NAIF dan banyak lagi, lengkap dengan segala permasalahan tentang narkoba.
Terakhir, sebuah film legendaris dari tahun 73 berjudul 'Ambisi' menjadi penutup. Film karya sutradara Nya Abbas Akup itu memberi gambaran tentang bagaimana radio menjadi satu-satunya corong bagi musisi meraih kesuksesan. Dibalut secara musikal, 'Ambisi' menggandeng dua aktor kawakan, Bing Slamet dan Benyamin S.
Bing Slamet adalah seorang penyiar radio yang jatuh hati kepada penyanyi muda bernama Anna Manthovani. Dengan kuasanya, Anna disulap menjadi penyanyi pendatang baru paling tersohor saat itu. Namun, aksinya itu justru menghadirkan konflik antara dia dan musisi lain dengan alasan kecurangan.
Masih akan berlangsung dua hari, RRREC Fest in the Valley 2014, Sabtu (1/11) akan menampilkan aksi musisi lokal berkualitas. Sebut saja Bangku Taman, Backwood Sun, Pandai Besi, Matajiwa dan Pure Saturday. Ada juga workshop tentang radio digital.
Malamnya, RRREC Fest in the Valley 2014 akan dimeriahkan para Disc Jockey dari dalam dan luar negeri. Di antaranya DJ Uda Sjam, DJ Robot dan The Analog Girl (Singapura).
(hap/dal)











































