Digelar pada tahun 2013 lalu di empat kota besar di Pulau Jawa, Wali berhasil menyedot 500-an orang peserta. Melalui proses yang panjang, akhirnya tiga orang terbaik dipilih sebagai pemengan 'Wali Cari Idola'.
Mereka adalah Nyimas Ayu Luqita (Surabaya), Ratu Dewi (Jakarta) dan Herri Setiawa (Bandung). Mulai hari ini sampai seterusnya, masing-masing dari mereka akan menggunakan embel-embel 'idola' di belakang namanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas apa kriteria yang membuat Nyimas 'Idola', Ratu 'Idola' dan Herri 'Idola terpilih?
"Paling dasar itu attitude. Kan sempat ada karantina. Jadi, di situ kita bisa lihat dan nilai attitude-nya. Karena dunia hiburan itu luar biasa, kalau attitude-nya nggak baik, nggak bisa survive," jelas Faank lagi.
"Mereka juga bawa nama Wali. Jadi, harus tetap bisa membawa dan menjaga nama baik Wali itu sendiri. Makanya attitude itu yang paling kita perhatikan," sambung personel Wali lainnya, Ovie.
Genre dangdut yang dipilih sebagai benang merah para peserta juga mempunyai alasan tersendiri.
"Selain dangdut itu musik asli Indonesia, musik Wali kan juga ada unsur dangdut-nya. Jadi, kenapa nggak," kali ini gitaris Wali, Apoy, yang berkomentar.
"Memang kita disponsorin perusahaan rokok yang genre-nya dangdut. Selain itu Nagaswara juga dekat dengan dangdut, jadi kenapa nggak bersinergi saja," tambah CEO Nagaswara selaku label yang menaungi Wali dan pemenang 'Wali Cari Idola' nantinya, Rahayu Kertawiguna.
Saat ini, Nyimas 'Idola', Ratu 'Idola' dan Herri 'Idola' juga merilis single perdana mereka masing-masing. Nyimas hadir dengan 'Duda Anak Dua', sedangkan Ratu memperkenalkan 'Cinta Oplosan'. Laki-laki satu-satunya Herri percaya diri mengusung 'Tante Jamilah'.
Lagu-lagu tersebut masuk dalam album kompilasi 'Wali Cari Idola' yang dikemas dalam bentuk VCD karaoke.
(hap/mmu)











































