Hal itu tidak lain dan tak bukan dilakukan RAN demi menyambut lembaran baru karier bermusik mereka yang lebih matang. Bertempat di Kawasan Kuningan City, Jakarta Selatan, RAN menceritakan alasan sesungguhnya.
"Kita mau buktikan bahwa RAN tidak selalu identik dengan kata-kata 'cinta'. Akhirnya kita putuskan di album ini RAN tidak menggunakan empat kata, 'cinta', 'kasih', 'sayang' dan 'love'," jelas Rayi mewakili ketiga temannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga punya tujuan lain, yaitu untuk mengajarkan masyarakat Indonesia bahwa Bahasa Indonesia kaya dan tetap seksi. Ini kan budaya. Dan ini juga sejalan dengan konsep musik kita yang tahun ini bertambah dewasa," ungkapnya.
Melaui proses pengerjaan selama 1,5 tahun, akhirnya terpilih 10 lagu andalan. Lagu-lagu itu sendiri juga tidak biasa, aransemen serta tema tak luput dari konsep aroma kedewasan grup pelantun 'Hanya Untukmu' tersebut.
Bunyi-bunyian digital di album sebelumnya hilang dan berganti suara alat musik yang lebih otentik. "Kita lebih nge-band di sini. Lagu-lagunya bertempo medium dan bernuansa lebih kalem," giliran Asta angkat bicara.
"Selain itu, di album ini juga pertama kali RAN mengangkat tema patah hati di lagu 'Begitu Saja'. Dari dulu RAN kan selalu temanya jatuh cinta," tambah Asta.
Dari 10 lagunya, tiga lagu sudah lebih dulu dirilis sepanjang tahun 2013. Single perdana berjudul sama dengan albumnya menjadi pembuka di bulan Januari. Selanjutnya, 'Kita Bisa' yang dinyanyikan bersama Tulus meluncur bulan Juni dan 'Begitu Saja' dirilis bulan Desember lalu.
"Harapannya semoga karya baru kita lebih bisa ditangkap oleh telinga dan hati oleh penikmat musik Indonesia. Semoga album ini bisa menegaskan eksistensi RAN di industri musik," pungkas Nino lagi.
(hap/ich)











































