Tika yang juga seorang psikolog anak itu mengungkapkan, bahwa lirik-lirik dewasa yang mendominasi baik secara umum maupun di ajang lomba bernyanyi anak-anak membawa dampak negatif.
"Coba pikir, apa yang anak-anak bayangkan ketika mereka menyanyikan lirik 'ku tunggu cintamu, ku ingin bercinta denganmu,' apa yang mereka pikirkan? Dan sayangnya orang-orang bilang penghayatan anak-anak itu bagus. Itu aksesnya dari situ. Akhirnya masuk ke dalam fantasi si anak-anak." ungkapnya emosional ketika ditemui pada peluncuran album anak-anak 'Pelangi Acila' di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (27/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat ACILA ini, Tika bersama anggota yang lain berharap dapat mengurangi hal-hal negatif yang berkaitan dengan perkembangan anak-anak, terutama di usia sekitar 11-15 tahun.
Tapi ternyata, prosesnya tidaklah mudah. Hampir seluruh media radio dan televisi menolak pemutaran lagu anak-anak. Entah apa alasannya.
"Sulit sekali. Kalaupun ada cuma hanya sedikit. Itu kenapa kita eksplor lagi dengan aransemen yang pop dan dinyanyikan oleh penyanyi remaja," tambah penanggung jawab produksi Seno M. Hardjo.
"Saya sampai 'elus dada'. Tapi ya apapun yang terjadi kita maju terus," timpal Tika.
Dukungan dari lembaga-lembaga pemerintah pun mereka perjuangkan dan dapatkan. Meski, lagi-lagi Acila masih belum mendapatkan prioritas pendistribusian CD-CD karya Acila.
"Semua mendukung, Kemendikbud, Kesra, Parekraf, Perdagangan, tapi mereka juga nggak tahu harus ngapain. Saya banyak sekali nemuin CD masih menumpuk," ujar Tika Bisono lagi.
Saat ini Acila telah merampungkan album perdananya bertajuk 'Pelangi Acila' yang berisi 12 lagu bertemakan budi pekerti yang dirasa pas bagi perkembangan anak-anak zaman sekarang. Apalagi aransemen pop yang dinyanyikan oleh para penyanyi remaja dan dewasa seperti Dea Mirella, Nugie, dan Leony Paramitha diharapkan mampu diterima lebih luas.
(hap/nu2)











































