"Kontribusinya ya ngasih parameter bahwa perkembangan musik jazz itu sudah sampai mana. Terus kita juga bisa nanam 'knowledge of jazz' dan numbuhin itu di mahasiswa sebagai generasi penerus," ungkapa Syaharani saat jumpa pers JGTC ke-36 di Kampus FEUI, Depok, Kamis (31/10/2013).
Musisi jazz kawakan lainnya Barry Likumahuwa pun menunjukkan apresiasinya terhadap JGTC. Bagi Barry, JGTC adalah festival jazz paling setia di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barry menambahkan, JGTC juga selalu menjadi ajang bagi para musisi jazz untuk bereksperimen.
"Tiketnya murah, di bawah Rp 50,000. Dan satu-satunya tempat dimana musisi jazz ditreatnya kaya rock star," lanjutnya.
Namun, Barry bersama sang ayah yang kebetulan hadir, Benny Likumahuwa, mengharapkan agar JGTC senantiasa mempertahankan idealisme jazz yang sebenarnya.
"Semakin ke sini, harus diakui JGTC semakin pop, semoga tetap bisa mempertahankan idealismenya. Depapepe (duo dari Jepang) keren, tp dia bukan musisi jazz," kritik Barry.
"Bagi saya festival yang bagus, juga memperhatikan kesejahteraan para musisi yang tampil. Ini sekedar masukan untuk committee," tambah peniup saxophone handal Benny Likumahuwa.
Meski begitu, baik Barry dan Benny Likumahuwa, maupun Syaharani tetap mengapresiasi setinggi-tingging festival jazz yang rutin diadakan sejak tahun 1976 itu.
"Harapan saya tahun ini nggak hujan. Dari 2004 saya main di sini selalu hujan," tutup Barry.
(hap/nu2)











































