DetikHot

music

Kisah Hip-hop Lewat Film BlackBook dan Tak Sempurna

Senin, 23 Sep 2013 16:38 WIB  ·   - detikHOT
Kisah Hip-hop Lewat Film BlackBook dan Tak Sempurna Ferry dan Herman
Jakarta - Apa jadinya ketika dua pecinta hip-hop, Ferry Yuniardo \\\'Sweet Martabak\\\' dan sutradara Herman Panca bertemu? Mereka tak hanya ingin mengembangkan musik ini. Tapi ingin membongkar sejarah dan menginformasikan ini kepada khalayak.

Maka lahirnya sebuah film dokumenter bertajuk Blackbook pada 2012 lalu. \\\"Kita fokus membongkar sejarah hip-hop Indonesia,\\\" kata Herman Panca kepada detikHOT, Kamis (19\/9\/2013) di kantor CinePrime, Kemang, Jakarta Selatan.

Perjalanan napak tilas mencari sejarah hip-hop ini tak semudah kedengarannya. Saat tercetus untuk membuat film, Ferry Yuniardo hanya bermodalkan video-video rekaman tentang hip-hop yang ia kumpulkan sejak tahun 90-an.

\\\"\\\"


\\\"Kalau orang-orang punya diary, mereka menulis misalnya. Karena gue enggak suka menulis dan ngetik, gue suka pinjam handycam. Jadi kumpulan video itu yang gue garap,\\\" kata Ferry Yuniardo \\\'Sweet Martabak\\\'.

Setelah ini dibicarakan dengan Herman Panca, yang memang memiliki latar belakang di dunia film. Ia mulai membuatkan strukturnya, konsep dokumenter sejarah musti dilengkapi dengan wawancara orang-orang yang terlibat dan besar di dunia ini.

Akhirnya Panca mulai mewawancarai Iwa K dan John Marapat dari Sweet Martabak, agar video-video mereka memiliki benar merah yang terjahit rapih. \\\"Setiap kali orang yang diwawancarai menyebutkan nama, kita kejar nama tersebut. Kadang ya enggak dapat juga,\\\" ujar Panca.

***

Film Blackbook tidak didistribusikan secara komersil. Film berdurasi 90 menit sudah disiarkan ke komunitas-komunitas, dan dalam waktu dekat Blackbook akan dirilis gratis di situs Youtube.

\\\"Film ini membahas apa itu hip-hop, dan bagaimana perjalanannya hingga saat film ini selesai dibuat,\\\" kata Panca. \\\"Kan dokumenter lebih ke awal dia mulai sampai saat dia dibuat.\\\"

Baik Panca maupun Ferry berharap dengan lahirnya film dokumenter sejarah hip-hop Indonesia pertama, ini bisa membuat para pecinta hip-hop lainnya, turut membuat seri sejarah hip-hop Indonesia. \\\"Sejarah kan enggak berhenti, kita buat ini sampai zama sekarang, supaya ada yang melanjutkan,\\\" ungkap Panca.

Agar mereka menyadari pentingnya sejarah dan pendokumentasian. Maka format film ini dibuat sederhana dan jauh dari kesan produksi yang mewah. \\\"Alat film dan kamera sudah jadi alat rumah tangga, semua orang punya, jadi tekhnis tidak lagi jadi masalah. Kita sengaja membuat yang mudah ditiru, oleh pelaku hip-hop sendiri.\\\"

Mereka membuat ini sesederhana mungkin agar ada ruang untuk meningkatkan kualitas atau setidaknya kemauan untuk membuat film sejenis. Hip-hop bagi Panca dan Ferry memiliki pondasi soal persaudaraan dan perjuangan, maka bentuk karya film ini, juga coba menyiarkan bagaimana perjuangan para pendahulu hip-hop untuk membesarkan kultur musik ini.

\\\"Semua elemen di hip-hop ada di Blackbook, ada lima elemen. Mulai dari rapper, b-boy, grafiti, Dj, produser musik.\\\"

***

Selain film Blackbook, duo Ferry Yuniardo \\\'Sweet Martabak\\\' dan Herman Kumala Panca pun akan segera merilis film bertajuk Tak Sempurna.

Fim ini berbeda dengan Blackbook yang mereka buat sebelumnya. Selain karena film Tak Sempurna itu komersil dan akan tayang di bioskop besar Indonesia, ini juga berangkat dari kisah fiksi yang dibuat oleh Herman Panca.

\\\"Jadi gue buat cerita untuk diperangkan oleh para rapper. Film ini menceritakan filosofi tentang spirit hip-hop seperti brotherhood dan loyalitas. Tapi film ini bukan tentang rapper,\\\" kata Panca kepada DetikHOT pada 19 September 2013 di kantor CinePrime Pictures, Kemang, Jakarta Selatan.

Ferry menambahkan film ini diangkat dari kisah keseharian orang Indonesia, yang ditampilkan dengan jujur dan persis dengan realita perkotaan disini. \\\"Kita buat film yang memang mencerminkan orang Indonesia saja, dan ternyata yang aslinya Indonesia, kok hip-hop ya? ha...ha...ha...,\\\" kata Ferry.

Mereka mencontohkan tentang tawuran pelajar, ini sama dengan era hip-hop di Bronx saat ribut antar geng. Selain itu, menurut Panca, hingga kini ia belum bisa menikmati akting dari para pemain film Indonesia. \\\"Karena akting banget, cara ngomong di film itu bukan mencerminkan kenyataan,\\\" kata Panca.

Bagi Mereka film harus mampu memotret kenyataan di keseharian, termasuk cara bicaranya. \\\"Apa di bangsa ini ada konsep tidak boleh mengakui diri kita seperti apa?\\\" Mereka coba merangkum semuanya dalam film yang akan rilis kembali pada November 2013 nanti. Jadi perkelahian di gang sempit, bahasa yang bebas atau korupsi di atas meja, akan menghiasi adegan di film ini.

***


Keprihatinan akan film Indonesia yang tidak mampu menggambarkan keseharian secara gamblang, telah lama ada di benak Herman Panca. Ia memikirkan konsep ini selama empat tahun, dan akhirnya menemukan penyegaran saat melihat hip-hop bisa dijadikan landasannya.

Pencerahan ini ia dapatkan saat sedang menggarap film sebelumnya Blackbook. Masalah-masalah yang rangkum dalam proses pembuatan film hip-hop sebelumnya, seolah senada dengan kegundahan yang ia rasakan sebagai seorang sutradara. \\\"Isu gue dan hip-hop memiliki sebuah kesamaan,\\\" ujar pria berusia 30 tahun ini.

Dalam mendefinisikan aliran dari film Tak Sempurna ini, Panca yang pernah menempuh pendidikan film di Insitut Kesenian Jakarta ini, mengkategorikannya sebagai film hip-hop. \\\"Karena ada loyalitas, ada persaudaraan, apa adanya, vulgar.\\\"

Dari logika itu, baik Panca dan Ferry menegaskan hip-hop memiliki kandungan makna yang kaya. Bukan lagi bicara soal diskriminasi kulit, namun bagaimana kita melawan diskriminasi di sekitar, melompat dan berjuang dari masalah yang ada di keseharian.

Film yang memakan waktu syuting sekitar 16 hari ini akan dibintangi oleh Iwa K, John Parapat, Sania, Tya Arifin, Yacko, Saykoji, Derry \\\'Neo\\\', Ras Muhammad, Mathias Muchus, dan lainnya.






(utw/utw)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed