Kala Hentakan Rap Bersatu Dengan Distorsi Rock

Gelora Rap-Rock Indonesia (1)

Kala Hentakan Rap Bersatu Dengan Distorsi Rock

- detikHot
Senin, 23 Sep 2013 10:06 WIB
Kala Hentakan Rap Bersatu Dengan Distorsi Rock
Jakarta - Anak muda mana yang kini tak mengenal Linkin Park, Rage Against The Machine, Korn dan sebagainya? Sudah sejak tahun 1990-an kelompok musik itu akrab di kuping kita.

Namun sebenarnya Indonesia tak sekadar mengimpor musik keras berbaur hentakan irama rap itu. Ternyata label-label besar seperti Musica Records, Sony juga Nagaswara ikut melirik tren ini. Bahkan sejumlah band lokal indie pun ikut diangkat untuk bekerja sama dengan mereka.

Meski tren ini sempat melesu baik di barat atau industri musik lokal, ternyata tahun 2013 ini bisa dikata sebagai tahun kebangkitan bagi rap-rock di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Utamanya, setelah wadah bernama Rap Rock United hadir 2008 silam, band-band lokal yang merupakan pionir aluran musik ini, kembali bergairah.



Di tahun ini pula mereka merilis album baru. Sebut saja Kripik Peudeus yang merilis album terbaru pada Agustus lalu. Tahun ini, 7 Kurcaci juga telah merilis single terbar bertitel 'Berakhir Dengan Senyuman'.

Gong besarnya adalah single bertajuk 'Fist Up Unite', yang dibawakan oleh band-band pionir tadi ditambah dengan suara dari rapper Iwa K dan John Doe dari Sweet Martabak.

Nyatanya, meski ada goresan pengalaman pahit soal lalu-lalangnya tren musik. Misi Rap Rock United sendiri adalah untuk membuktikan eksistensi dan solidaritas mereka. Di Indonesia rap-rock belum mati.

***

Bagaimana genre rap-rock ini sampai di Indonesia sebenarnya adalah sejarah panjang tersendiri.

"Semua dari kultur musik hip-hop, punk-rock, rock. Jadi segala musik jalanan itu bermutasi dan salah satunya menjadi musik rap rock," kata Berry Manoch, vokalis band Saint Loco kepada detikHOT, Rabu (18/9/2013)

Hampir setiap band hip-hop, seperti Public Enemy punya pengaruh pada munculnya rap-rock. Perpaduannya dengan musik keras seperti band Exploited yang mengusung aliran punk, juga Metallica dengan aliran metalnya bercampur.

"Kultur ini mempengaruhi terciptanya rap-rock. Kemudian generasi selanjutnya yang mendengarkan band-band ini, mengkombinasikan elemen-elemen itu." Aliran campuran ini sampai pada puncaknya pada awal abad 21, lalu sempat meredup.

Berry mengatakan di Barat sendiri, dilihat dari kacamata mainstream, rap-rock sudah tak terlalu diekspos. Meski tentu saja masih berjalan. Semua karena mereka punya label dan rekaman sendiri, tur dari kota ke kota dan didukung fanbase yang kuat.

"Jadi mereka enggak peduli dengan industrinya. Mereka bikin pasar sendiri," kata Berry.

***

Perbincangan soal industri musik semakin memanas kala pendapat Berry ditimpali oleh Gusse dari Kripik Peudeus, Munkee dari 7 Kurcaci dan Mada dari Master Wu.

Mereka membandingkan kondisi yang terjadi di barat dengan Indonesia. Di Indonesia aliran musik ini baru bisa menembus siaran radio mainstream hanya ketika sedang booming.

"Di Indonesia wadahnya tidak memadai. Hampir tidak ada radio mainstream yang berani memutarkan musik rock 24 jam, beda dengan musik pop. Kecuali ini sedang dijadikan bintang oleh industrinya," kata Munkee.

Namun untungnya tren rap-rock di barat ini, bisa diadaptasi di Indonesia. Band-band seperti 7 kurcaci, Saint loco dan Kripik Peudeus pun mendapat kesempatan untuk mencicipi label rekaman besar.

"Akhirnya kita terwadahi, yang tadinya jalan sendiri-sendiri jadi digandeng. Karena mereka (major label) melihat ini bisa mendatangkan uang."

Tapi ketika trennya hilang, maka major label juga menganggap pasar juga akan hilang. Baik Berry, Gusse dan Mada merasa punya tanggung jawab besar untuk membuat aliran ini tetap hidup. "Terutama karena yakin penikmatnya masih ada," kata Munkee.

***

Para dedengkot rap-rock ini juga menjelaskan bahwa saat masa kejayannya, masing-masing band berjalan sendiri. Ini disebabkan oleh kesibukan masing-masing band, namun kini, mereka merasa seperti ada energi baru dengan wada Rap Rock United dan merasa sebagai bagian dari sebuah keluarga besar.

Tren di musik cepat berubah. Namun meski rentan dalam perjalanannya mereka yakin. "Kita mendengarkan semua musik, kita bisa juga memainkan aliran musik lain. Tapi ini yang paling mewakili kita, ini identitas kita," kata Munkee.

Perlu diketahui bahwa gaya fashion yang dibawa oleh aliran musik ini juga pernah ikut merebak menjadi tren. Menurut Gusse gaya ini dipengaruhi oleh beberapa aliran musik lain.

"Musisi hardcore, hiphop, raprock,ada kemiripan gayanya. Karena kalau balik ka akarnya, di New York, disana hip hop-nya kuat, tapi anak-anak hardcore-nya juga nongkrong disana. Ya sama-sama bawa unsur jalanan," kata Gusse. Saat Fred Durst bersama band Limp Bizkit sedang naik daun, pakaian merek Adidas hingga topi baseball ikut menjadi tren yang populer.






(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads