Mengapa Produser Musik Alternatif Mempertahankan Bentuk CD Fisik

Label Rekaman Alternatif (2)

Mengapa Produser Musik Alternatif Mempertahankan Bentuk CD Fisik

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 23 Agu 2013 11:28 WIB
Mengapa Produser Musik Alternatif Mempertahankan Bentuk CD Fisik
Jakarta -

Menyoal musik independen atawa indie versus musik mainstream, menurut David Karto, Managing Director di Demajors sebenarnya tak perlu dengan kening berkerut. Fleksibel saja.

"Ini terjadi di masyarakat, sebab orang umumnya menilai dulu yang maju dan benar-benar memegang peranan dalam industri musik adalah lima major label, seperti Musica, Warner, Sony, Universal, Trinity," Ujar David, yang menemui detikHOT di kantornya dalam balutan baju santai dan bercelana pendek Senin (19/8/2013) .Β 

Namun kini memang ada pergeseran posisi dominasi dari label rekaman major mulai menurun. Akibatnya mereka yang berada dalam gerakan indie jadi lebih kelihatan. Belum lagi kubu indie punya kelebihan karena memiliki lebih banyak ragam produk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan rekaman model Demajors inilah yang bekerja menyaring para musikus di ranah yang mencakup semua sektor. "Mau itu jazz, rock, reggae, atau elektronik, kita ada semua," kata David.

***

Gerakan musik indie sendiri sebenarnya sudah cukup lama ada. Setidaknya sejak era 1970-an. Mereka bergerak dengan cara, rasa, kreatifitas gaya dan perilaku mereka sendiri. Nah, sementara Demajors mencoba membuat segmen pendengar sendiri yang berada di wilayah minoritas.

Berbeda dengan label besar yang biasanya mengusung tren seragam.
"Kemarin mereka (major label) mengarahkan ke musik-musik Melayu. Ini sah-sah saja. Memang pada akhirnya akan ada seperti dua sisi mata uang. Kalau dari kami, bagaimana musik-musik yang bagus dari teman-teman musikus, juga bisa lebih dikenal luas masyarakat," kata David menjelaskan.

Untungnya menurut David, musikus indie sifatnya bisa lebih fleksibel, karena mereka tidak menargetkan untuk menjadi seorang bintang. Mereka hanya berkarya, menikmati hidup, dan menjalaninya dengan passion. "Sifatnya lebih humble, dalam artian mereka berusaha tapi tidak ngotot," ujar David.

***

Sebagai sebuah label rekaman, Demajors tidak memiliki studio rekaman sendiri. Salah satu alasannya adalah karena pengaruh era dimana musikus bisa menjalankan sendiri proyek do-it-youself (DIY). Musikus bisa menjalankan sendiri rekaman digitalnya melalui perangkat lunak seperti GarageBand, Ableton, dan lainnya. Belum lagi kini fasilitas studio rekaman sudah banyak.

Demajors lebih bergerak untuk menjawab kekosongan ruang distribusi, marketing dann promosi. Kini Demajors telah memiliki panggung sendiri di acara sekelas Java Rocking' Land dan Jazz Goes to Campus, bernama Propanganda Stage

Berbeda dengan label mayor yang pelan-pelam menganggap penjualan CD fisik tidak seksi lagi di era digital, kubu indie justru sebaliknya. Bagi Demajors, pendistribusian CD fisik, tetap penting. "Proses ke musik digital itu proses arahnya akan ke sana. Tapi di Indonesia ini masih akan terjadi sekitar 3-4 tahun lagi," kata David.Β 

Menurut David perangkat penunjang untuk musik digital di Indonesia belum merata dimiliki semua level. "Misalnya saja yang pakai iPhone baru berapa orang? Yang punya kartu kredit dan langsung didebet kalau ada pembelian di iTunes kan belum banyak," ujarnya.

Menurut mantan Disc Jockey ini, masyarakat sekarang ini masih merupakan pembeli CD. Karena setiap kali musikus indie membuka panggung di Propaganda Stage, penjualan CD disana sangat laris. "Pokoknya tetap berkarya, tetap merekam dan sebarkan hasil karya pada para penyuka musik. Jangan takut pada perkembangan yang terjadi, tetap berjalan saja semua, tetap positif."

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads