Memasuki era modern, perkembangan musik metal pun tetap dinamis. Dimana digital domain akhirnya bisa masuk ke dalam idealisme musik tersebut.
Dari kacamata penikmat musik Indonesia, musik metal kini tengah menggelora. Bukan karena musik metal mulai bisa 'menduduki' label major, tapi juga karena invasi 'dedengkot' musik metal dunia yang unjuk gigi di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Krisna menuturkan bahwa perkembangan musik global yang memang tengah lesu dalam penjualan fisik membuat para musisi khusus band metal diwajibkan lebih melebarkan jangkauannya ke Asia. Alhasil para pihak label bukan menjual fisil album tapi lebih ke show.
"Perkembangan secara global memang penjualan fisik sudah tidak bisa lagi. Sekarang yang dijual itu show, alhasil banyak yang mencari 'lahan' baru. Asia yang biasanya dilompatin pun jadi dipaksa untuk dihinggapi," ujarnya.
Krisna yang sudah terjun ke industri musik metal sejak era 80'an itu pun melihat industri metal Indonesia sudah melewati tiga periode masa 'sekarat'-nya. Dimana pada beberapa tahun ini memang tengah mereda geliatnya.
"Musik metal sendiri sudah ngalamin tiga kali periode, yaitu gelombang tahun 89-90, kedua tahun 96-97 hingga ketiga 2000'an. Kini setelah serbuan band luar, musik metal kembali bergeliat lagi," jelasnya.
(fk/mmu)











































