Travis mengalami trauma yang sangat besar untuk naik pesawat. Kecelakaan pada September 2008 silam nyaris merenggut nyawanya.
Butuh waktu sekitar setahun bagi Travis untuk pulih dari kecelakaan tersebut. Luka bakar bekas kecelakaan tersebut mulai pulih, tapi tidak dengan trauma yang ia alami. Hal itu pun berpengaruh bagi tur Blink 182 yang mengharuskan mereka bepergian jauh dengan pesawat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Travis bisa saja ikut dalam tur Blink 182 ke Eropa, tapi tidak menuju benua Australia. Menurutnya, berada di dalam pesawat selama 24 jam perjalanan masih terlalu menakutkan.
"Saya sepertinya belum mungkin naik pesawat ke Australia. Saya sebenarnya ingin mengatasinya. Anak-anak saya sangat ketakutan naik pesawat. Saya ingin mereka menjadi saksi saya bisa mengatasinya," jelas Travis.
Hingga kini Blink 182 belum membocorkan bagaimana rencana tur mereka jika Travis tidak ikut serta. Akankah kedatangan mereka ke Australia membuat promotor Indonesia tertarik untuk membawa mereka ke Tanah Air? Kita tunggu saja.
(yla/mmu)











































