Pintu D2 Axis Hall sudah dipadati 'muda mudi', ehm... maksudnya pria dan wanita yang pernah muda di tahun 70 atau 80-an. Mereka mengantri dengan membawa anak-anaknya. Sebenarnya ada juga anak muda, tapi mereka-mereka yang ngefans turun temurun dari orangtuanya.
Tepat pukul 17.45 WIB pintu dibuka, kertas putih bertulisan 'sound check' yang tadinya tertempel di pintu masuk D2 Axis Hall pun dicabut. Sambil berlarian penonton Fariz masuk, seakan mereka ingin memilih tempat di paling depan dekat panggung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fariz tidak bernyanyi sendiri, ia didampingi backing vocalnya. Lagu itu cukup membuat penonton yang kebanyakan berambut putih itu bernostalgia.
Dalam aksinya tersebut, Fariz begitu bersemangat. Tangannya berulang kali dikepalkan selayaknya menandakan dirinya gemas dengan panggung. Maklum saja, baru kali ini pria yang beristrikan Oneng Diana Riyadini itu belum terlalu eksis lagi di panggung setelah tersangkut kasus narkoba 2007 lalu.
Namun tidak masalah, pria berambut gondrong itu masih terlihat semangat dan pantas menyandang musisi legendaris.
Kembali ke konser, Fariz juga menyanyikan lagu barunya, 'Terindah'. Di tengah-tengah konser ia mengatakan kebanggaannya bermain dengan musisi-musisi muda. Salah satu musisi pendukung Fariz adalah Barry Likumahua.
"Saya merasa bangga bisa main dengan lintas generasi. Berada di sini, dan banyak juga yang muda-muda," katanya sambil tersenyum.
Makin panas, 'Sakura' dan 'Barcelona' masih menjadi bintang di balik sosok Fariz. Bahkan saat penonton meminta lagu itu, Fariz sedikit curhat mengapa lagu tersebut masih melekat dalam dirinya seumur hidup?
"Tapi tidak apa, saya senang," katanya.
Langsung ke keyboardnya, raut wajah Fariz menghayati setiap nada yang keluar. Begitu juga penonton, mereka yang memenuhi D2 Axis Hall juga ikut bernyanyi.
Setengah perjalanan, komposer Erwin Gutawa rupanya menjadi roda pemilik album 'Selangkah ke Sebrang' itu. Erwin seakan menjadi kejutan Fariz yang akan mendampinginya sampai konser habis. Erwin yang sudah ambil ancang-ancang di depan keyboard Fariz pun tersanjung mendengar kenangan Fariz.
"Sudah lama nggak kerjasama dengan dia. Saya terakhir kerja sama dengan Erwin tahun 1981, 30 tahun lalu. Setelah itu dipertemukan di sini. Nggak tahu akan seperti apa?" Ungkap Fariz.
Jadinya? Yah pasti memukau, apalagi dengan aksi solo Barry dan perkusi yang seakan membawa kembali zaman kejayaan Fariz.
'Susi Belel', 'Fenomena', 'Belangguh', dan 'Perjalanan' membuat keringat Fariz cukup bercucuran. Bagaimana tidak, Fariz melompat-lompat dan terus membawa semangat dengan sepalan tangannya. Dan konser pu berakhir....
"Terimakasih sudah menikmati," tutup paman Sherina Munaf itu.
(ebi/hkm)











































