Itulah petunjuk yang diucapkan oleh Brutus, seorang sopir taksi, penggemar fanatik Rhoma Irama. Obsesinya yang begitu besar membuatnya nekad melakukan kejahatan untuk menarik perhatian sang idola: dia menculik mahasiswi Australia yang sedang riset tentang dangdut di rumah si raja dangdut itu.
Dengan menyebut-nyebut 'Satria Bergitar', salah satu film terkenal dari Rhoma Irama, film ini seperti hendak membuat persambungan dengan kejayaan masa lalu, untuk menandai sebuah come back. Tapi, bagi generasi sekarang, apakah hal itu cukup efektif untuk merekonstruksi kebintangan Rhoma Irama?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alkisah, Rhoma Irama memanggil pulang anaknya dari kuliahnya di Australia dan memintanya untuk membentuk grup band dangdut guna melanjutkan apa yang tadi disebut-sebut sebagai "revolusi musik" itu. Plot ini berjalan beriringan dengan dua plot lainnya: seorang pekerja event organizer (EO) yang sedang sibuk menghubungi Rhoma Irama untuk sebuah acara, dan seorang sopir taksi penggemar fanatik pimpinan grup Soneta itu.
Β
Jadi, 'Dawai 2 Asmara' memang film yang berpusat pada Rhoma Irama. Dia adalah bingkai cerita, sekaligus motif yang menggerakkan dan mempertemukan ketiga sub-plot. Sayangnya, dengan fondasi yang sudah sekuat itu, alur film ini berkembang sempoyongan. Titah Rhoma kepada anaknya untuk membentuk band Sonet 2 mestinya berkembang dalam adegan-adegan yang inspiratif. Namun, cerita justru lebih suka berbelok menjadi kisah cinta antara Ridho dan pekerja EO tadi, Thufa (Cathy Sharon) yang ternyata oh ternyata teman masa kecilnya.
Pertemuan kembali Thufa dengan Ridho mengalihkan perhatiannya dari pacar dia saat ini, Delon. Jadilah kemudian, sesuai judulnya, 'Dawai 2 Asmara' (sutradara: Endri Pelita dan Asep Kusdinar, skrip: Asep Kusdinar, produser: Erna Pelita) menjadi sebuah drama cinta segitiga biasa, untuk tidak menyebutnya klise. Sub-plot sopir taksi sebenarnya menarik, dan berkembang secara agak mengejutkan, namun sulit mencari benang merah dengan keseluruhan cerita. Akhirnya hanya menjadi seperti tempelen saja. Sayang sekali, padahal Pepeng 'Naif' menghidupkan tokoh Brutus dengan sangat ciamik.
Rhoma Irama memerankan dirinya sendiri, dan dipanggil Pak Haji bahkan oleh anaknya sendiri. Ridho Rhoma juga berperan sebagai Ridho Rhoma, dengan konstruksi seorang pemuda super-alim. Boy dari film 'Catatan Si Boy' yang cuma menggantungkan tasbih di mobil sih lewat. Ridho selalu menyapa orang dengan 'assalamualakum' dan rajin puasa Senin-Kamis. Ketika mau rapat pembentukan Sonet 2, dia minta izin untuk berbuka puasa dan salat magrib lebih dulu -sebuah konstruksi yang nyaris tidak punya kontribusi terhadap cerita.
Demikian juga dengan Delon, berperan sebagai dirinya sendiri, seorang penyanyi, yang kemudian berlomba dengan "si penyanyi dangdut" untuk mendapatkan cinta Thufa, dengan akting yang tingkat keburukannya tidak tertandingi oleh aktor manapun, di dunia maupun akhirat.
Pak Haji dengan segala kewibawaannya tetap menjadi daya tarik. Dia naik kuda menyusuri kebun teh dan mengajari anaknya pentingnya ilmu bela diri. Sementara Ridho Rhoma sepertinya masih canggung, kecuali dalam hal memamerkan bulu dadanya yang
menyembul sampai ke leher itu.
Secara keseluruhan, film ini terasa seperti dipanjang-panjangkan. Untungnya (orang Indonesia selalu beruntung), dengan sinematografi yang cukup manis, kita masih terhibur oleh adegan-adegan menyanyi bak film India yang muncul di tengah dialog-dialog yang membosankan. Lagu 'Cuma Kamu', salah satu karya legendaris Pak Haji, masih menggetarkan ketika dinyanyikan kembali oleh Ridho di acara ulang tahun Thufa.
Β
Pada bagian akhir muncul narasi dari si bule peneliti, bahwa revolusi dangdut gelombang kedua yang diimpikan Pak Haji berhasil, tanpa kita tahu prosesnya, dan berhasilnya itu seperti apa. Tapi, ya sudahlah, tunggu saja sampai adegan musikal di bandara dengan koreografi yang lucu ala penutup film 'Slumdog Millionaire'. (iy/iy)











































