"Ya saya rasa susah sekali membayangkan alur kecelakaan, dan terlalu capek kalau saya menggambarkan hal yang detail. Hal yang seperti itu udah kita survey beberapa macam jatuhnya. Lagipula memang orang Indonesia itu sudah tidak ada logikanya, dan tidak perlu logika kalau membuat film," ujar Rudi berapi-api saat konferensi pers di sebuah kafe bilangan Setiabudi, Kamis (28/2/2008).
Saat itu juga ada salah seorang wartawan yang berpendapat bahwa mungkin Rudi tidak cocok menjadi sutradara film horor. Film horonya dianggap tak sebagus karya bergenre lain yang pernah dihasilkan sutradara berkacamata itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cocok nggak cocok ini hobi, kalau memng ada yang nggak suka, ya nggak usah ditonton. Kalau ada orang yang menyuruh saya berhenti membuat film horor, mendingan orang itu saja yang berhenti menulis. Buruk atau baik film saya, itu saya buat dengan uang saya sendiri, jadi tidak ada yang bisa membuat saya berhenti membuat film dan membuat hal yang baru," tegasnya.
Namun Rudy juga berjanji akan terus mencoba membuat film dan memperbaiki kualitasnya. "Saya akan terus membuat film. Kesempurnaan ada karena adanya kesalahan yang disempurnakan," ujarnya lagi.
(kee/eny)











































