Aksi Pengembalian Piala Citra
Dewan Juri FFI: Itu Bentuk Arogansi
Kamis, 04 Jan 2007 19:32 WIB
Jakarta - Setelah Noorca M. Masardi buka suara, Kamis (4/1/2006) sejumlah dewan juri FFI lainnya ikut angkat bicara. Mereka menilai, aksi pengembalian Piala Citra yang dilakukan Masyarakat Film Indonesia (MFI), hanyalah bentuk arogansi semata.Komentar pedas tersebut keluar dari bibir Sophan Sofyan. Sophan yang menjadi juri di FFI 2005 mengatakan tindakan MFI tersebut membuktikan kalau masyarakat perfilman Indonesia belum siap untuk berkompetisi."Mereka seperti anak muda yang tidak kenal dengan masa lalunya," tambahnya di Gedung Film, Jl. MT. Haryono, Jakarta Selatan, Kamis (4/1/2007).Tak jauh berbeda dari Sophan, salah satu dewan juri FFI 2006, Chaerul Umam juga ikut menyatakan kekecewaannya pada sikap para sineas muda yang memprotes kemenangan 'Ekskul'. Soal isi protes kalau 'Ekskul' tak orisinil, Umam mengaku baru tahu setelah hal tersebut ramai diberitakan."Kenapa baru sekarang? Kalau memang mereka tahu tentang masalah itu, kenapa tidak bilang dari awal? Kalau kami tahu tentang masalah itu, barangkali keputusan kami akan berbeda," urainya.Tak hanya juri, Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) sekaligus Ketua Penyelenggara FFI 2006, Jhonny Saprudin pun ikut angkat bicara. Ia meminta para sineas muda yang melakukan protes menghormati FFI.Menurutnya kalau sampai FFI tak ada lagi, akan jadi malapetaka untuk perfilman Indonesia. Apalagi jika diingat sejarah terjadinya FFI. Dikisahkannya, dulu dua sineas besar Jamaludin Malik dan Umar Ismail berjuang dengan uang mereka sendiri untuk menggelar festival film yang sempat vakum itu.Ditambahkannya, apa yang telah dipilih juri FFI yaitu memenangkan 'Ekskul' merupakan suatu keputusan mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. "Kalau ada kekeliruan secara hukum, ya diproses secara hukum," pungkasnya. (eny/fta)











































