detikHot

Wawancara Eksklusif

Ine Febriyanti Mengaduk-aduk Emosi Perankan Karakter Gundik

Jumat, 12 Jul 2019 13:48 WIB Desi Puspasari - detikHot
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Memerankan sosok Nyai Ontosoroh dalam film 'Bumi Manusia' ternyata bukan hal mudah untuk Sha Ine Febriyanti. Meski sudah khatam degan novel karya Pramoedya Nanta Toer, Ine masih punya banyak pekerjaan rumah.

"PR banget sih. gimana saya bisa jadi Nyai Ontosoroh. Saya baik-baik saja dengan suami saya, beda sekali. Saya hidup di zaman perempuan bisa go public gitu," ucap Ine Febriyanti kepada detikHOT.

Sedangkan hal-hal yang terjadi pada Nyai Ontosoroh yang diceitakan dalam 'Bumi Manusia' sangat berbeda dengan kehidupan Ine Febriyanti. Ada banyak riset yang dia lakukan untuk mendalami Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang sudah sejak usia 14 tahun dijual oleh orangtuanya ke seorang pengusaha asal Belanda.



"Nyai Ontosoroh itu kenapa bisa begitu karena dia kan sakit hati, dijual sama bapaknya, segala macam, kerumpangan itu yang tidak saya miliki. Ada mungkin beberapa metode yang saya lakukan," ceritanya.

"Ketika di set, saya nyapu, saya diminta oleh Hanung sih, 'Kamu itu kurang jadi lonte' dia bilang gitu. Karena gundik itu kan, seolah-olah gue menyerahkan diri gue untuk orang yan bukan haknya gitu. 'Lo tuh harus kayak gundik. Gundik yang dibuang'," tegas Ine Febriyanti.

Sebagai perempuan yang baik-baik saja kehidupannya, Ine harus mengulik perasaan marah sebagai gundik. Ibu tiga anak itu selalu berusaha menata segala sesuatu kebutuhannya di latar lokasi syuting.



"Gimana caranya gue bisa marah. Gue nggak, nggak disayang sama keluarga gue. Akhirnya gue melakukan pada saat itu ya saya selalu datang ke set. Saya menata semua set saya," ungkapnya.

Video: Eksklusif! Cara Ine Febriyanti Olah Emosinya Sebagai Nyai Ontosoroh

[Gambas:Video 20detik]



Dengan menjadikan dirinya merasa terbuang, Sha Ine Febriyanti mulai membentuk pikiran jika dirinya adalah seorang gundik.

"Di situ mulai mengafirmasi 'gue lonte, gue dijual ama bapak gue' terus itu, 'gue ini nggak berharga makannya harus berharga'. Secara ini nggak dapat, afirmasi itu jadi muncul sedikit demi sedikit. Akhirnya saya menemukan Nyai Ontosoroh itu," tukas Ine Febriyanti.
(pus/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed