DetikHot

movie

Fakta Menarik Film 22 Menit dari Teknologi hingga Latihan Tembak

Selasa, 17 Jul 2018 19:16 WIB  ·   Mustiana Lestari - detikHOT
Fakta Menarik Film 22 Menit dari Teknologi hingga Latihan Tembak Foto: (dok.22 Menit)
Jakarta - Sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita dari Buttonijo Films mengangkat kisah keberanian polisi dalam film berjudul 22 Menit. Eugene mengungkapkan bahwa film yang didasarkan kisah nyata peristiwa bom Thamrin sedikit didramatisir pada beberapa bagian dari peristiwa bom Thamrin untuk keperluan bercerita lewat medium film.

"Kami berniat menyuguhkan sajian teknologi canggih ke layar lebar," kata dia dalam keteranga tertulis, Selasa (17/7/2018).



Menurut Myrna yang telah melakukan penelitian di Kepolisian Republik Indonesia selama setahun sebelum produksi dimulai, pihak Buttonijo melakukan konsultasi secara rutin dengan aparat demi akurasi naskah dan adegan.

Sejumlah aktor yang terlibat adegan baku tembak diwajibkan untuk mengikuti boot camp agar bisa tampil meyakinkan. Bahkan, Buttonijo juga membangun maket kedai kopi dan pos polisi dalam ukuran nyata 1:1 untuk diledakkan secara sungguhan.

"Kami menggunakan CGI untuk banyak adegan action di '22 Menit.' Contohnya, adegan baku tembak antara polisi dan teroris. Lalu, karena ledakan kedai kopi dan pos polisinya beneran, kami juga harus pakai green screen untuk menggambarkan situasi Thamrin saat itu," ungkap Myrna menjelaskan.



Untuk urusan musik, Buttonijo menggaet komposer Andi Rianto yang hasil karyanya sudah tidak diragukan lagi. Andi mengatakan gembira bisa bergabung dengan tim kreatif 22 Menit.

"Menurut saya, jalan cerita '22 Menit' sangat menarik dan adegannya sangat bercerita. Apalagi adegan-adegan action-nya. Saya berharap sentuhan scoring yang saya buat mampu menghadirkan sisi emosional dari film ini," ungkap Andi Rianto.

Hiruk pikuk ibu kota yang menjadi sorotan dalam film 22 Menit juga ikut tergambar melalui alunan lagu 'Jakarta' yang dibawakan secara syahdu oleh Semenjana.

Menurut Satrio Pinandito dari Semenjana, lagu yang diambil dari album mereka yang berjudul 'Kalimatera' ini diciptakan sebagai wujud rasa sayang terhadap kota yang telah membesarkan mereka.

"Lagu ini kami tujukan untuk mereka yang sering kali merasa benci tapi rindu dan sayang kepada ibu kota kita, Jakarta. Kami semua besar dan mengalami hidup di kota ini dan banyak peristiwa yang terjadi di dalamnya. Segala rasa manis, asam dan asin kami tuangkan ke dalam lirik dan alunan lagu yang damai ini," jelas Satrio.

Lexy Mere selaku produser menyatakan harapannya agar film 22 Menit bisa menjadi pembelajaran untuk bangsa Indonesia agar senantiasa waspada dan bahu-membahu meredamkan jaringan terorisme di negeri tercinta.

"Kami berharap film ini bisa menjadi pembelajaran soal anti terorisme di Indonesia. Kita sebagai warga sipil juga bisa punya andil untuk membantu tugas mereka dengan cara waspada dan senantiasa berani melapor," jelas Lexy.

Keseriusan pembuatan film ini juga didukung oleh Bank BRI yang mengapresiasi keberanian para polisi dalam menanggulangi aksi terror yang terjadi pada Januari 2016 silam.

"Ketika kami diajak untuk untuk telibat dalam project ini, kami langsung meng-iyakan, karena karya anak bangsa ini menceritakan betapa epiknya perjuangan polisi berjuang melawan teroiris kala itu," jelas Direktur Human Capital Bank BRI R. Sophia Alizsa.

Sophia juga menyatakan film 22 Menit sebagai karya anak bangsa yang patut mendapat apresiasi tinggi. "Kami turut senang dan bangga dapat menjadi bagian dari film 22 Menit yang tidak hanya menghadirkan kualitas hiburan yang menjanjikan dan bertutur secara jujur, tetapi juga menunjukkan secara nyata kualitas teknologi dan pasukan yang dimiliki Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan bangsa ini." sambung Sophia.

Fakta Menarik Film 22 Menit dari Teknologi hingga Latihan Tembak Kapolri Muhammad Tito Karnavian dan istri, Direktur Human Capital Bank BRI R. Sophia Alizsa, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank BRI Indra Utoyo, kru dan pemain 22 Menit/Foto: BRI


Sophia melanjutkan, hal tersebut secara psikologis mampu memberikan ketenangan tersendiri kepada masyarakat sehingga dapat dikatakan bahwa film 22 Menit memiliki pesan positif terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di tengah maraknya paham radikalisme dan terorisme yang tumbuh cukup subur di tengah-tengah kita.

"Bank BRI sebagai salah satu lembanga keuangan terbesar di Tanah Air ini merasa terpanggil untuk berperan aktif bersama pemerintah dalam memerangi bibit radikalisme dan terorisme tersebut salah satunya melalui medium film yang digarap secara jujur dan tidak menggurui sehingga mudah diterima oleh masyarakat sekaligus menunjukkan dukungan kami terhadap perkembangan industri film nasional," lanjut dia.

Dalam film tersebut, Ario Bayu yang berperan sebagai Ardi, anggota pasukan antiterorisme kepolisian yang mempertaruhkan nyawanya demi mengamankan ibukota dari ledakan bom tersebut. Berkat kesigapan tim dan juga bantuan dari seorang polisi lalu lintas bernama Firman (Ade Firman Hakim), pelaku serangan bom bisa diamankan dalam waktu 22 menit.

Selain cerita tentang Ardi dan Firman, film 22 Menit juga menghadirkan sudut pandang mereka yang ikut terjebak di dalam situasi mencekam. Beberapa di antaranya adalah office boy bernama Anas (Ence Bagus), dua karyawati bernama Dessy (Ardina Rasti) dan Mitha (Hana Malasan), serta Shinta (Taskya Namya) yang merupakan kekasih Firman.

Roadshow film 22 Menit akan diadakan di sejumlah kota di Indonesia, mulai dari Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Karawang, Bandung, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Medan, Lampung, Palembang hingga Makassar.


(mul/ega)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed