DetikHot

movie

Cerita Pemain Dalami Karakter di 'Guru Ngaji'

Kamis, 15 Mar 2018 18:38 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Cerita Pemain Dalami Karakter di Guru Ngaji Foto: Donny Damara di film 'Guru Ngaji & Badut Maksimal' (instagram Dewi Irawan)
Jakarta - Untuk mendalami perannya di film 'Guru Ngaji', dua orang pemain, Donny Damara dan Verdi Soelaiman, tidak hanya membedah karakter yang ia perankan. Mereka juga berlatih hal-hal baru.

Untuk Donny Damara yang memerankan tokoh Mukri yang berprofesi sebagai guru ngaji sekaligus badut, dirinya mengatakan berlatih menjadi badut setiap hari. Mulai dari belajar trik sulap hingga mengendarai sepeda roda satu.

"Jadi di antara kesibukan kami semua masing-masing paling tidak kami selalu beberapa jam, yang disediakan oleh produksi kita selalu latihan, ada (latihan) juggling, ada sulap, ada sepeda roda satu, itu yang paling sulit. Nggak ada yang bisa berdiri lama (naik sepeda roda satu)," kata Donny Damara saat berkunjung ke kantor detikHOT baru-baru ini.

Donny Damara rupanya tidak belajar sendirian. Verdi Soelaiman yang berperan sebagai pemilik sirkus pun turut belajar beberapa gerakan. Hanya saja latihan yang dijalani Verdi memiliki porsi yang lebih kecil.

"Aku sebenarnya lebih ke background karakter. Karena aku kasih background cuma buat karakter aku doang, mereka latihan masa aku nggak ikut latihan, cuma mereka lebih intens," ceritanya.

Meski tidak terlalu banyak berlatih menjadi badut, tantangan yang Verdi rasakan justru terletak pada saat ia belajar berbahasa Jawa. Karena, 'Guru Ngaji' memang mengambil sebuah desa kecil di Boyolali, Solo, Jawa Tengah sebagai latarnya.

"Gue mungkin paling sulit karena nggak biasa dilakuin sehari-hari (bicara dalam bahasa Jawa). Tapi kru banyak yang dari Jawa jadi nggak terlalu sulit," ungkapnya.

Dalam memerankan Koh Alung, Verdi malah menambahkan sendiri dialog berhasa Jawa dari naskah aslinya.

"Jadi dikasih script dia (penulis naskah) bebaskan pemain untuk merubahnya. Aku cuma ganti ke bahasa Jawa (dialognya) biar lebih kedaerahan. Karena kalau dia memang besar di Solo, dia pasti berbahasa daerah. Jadi akhirnya mau nggak mau gue harus ngomong bahasa Jawa dan mencoba mengganti beberapa dialog yang memang spontan, atau pas lagi emosinya di intensitas tertentu, keluarnya bahasa Jawa," urainya lagi.




(srs/dal)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed